
DENPASAR, BALIPOST.com – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa pemilahan sampah dari sumber menjadi kunci utama dalam mengatasi persoalan sampah nasional. Hal itu disampaikannya usai mengikuti Apel Siaga Pemilahan Sampah di Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala, Denpasar, Selasa (7/7).
Menurut Zulkifli Hasan, pemilahan sampah organik dan anorganik merupakan langkah paling mendasar dalam pengelolaan sampah. Pemerintah pun mulai memperkenalkan alat pengolah sampah organik skala rumah tangga yang dikembangkan BRIN yang dinilai mampu mengurangi volume sampah secara signifikan.
“Memang kelihatannya kecil, tapi ini kalau satu kilo katanya tiga tahun gak penuh-penuh. Saya juga meminta agar disiapkan alat yang lebih besar, misalnya berkapasitas sekitar 50 kilogram, sehingga bisa dimanfaatkan di sekolah-sekolah,” ujarnya.
Selain memperkuat pemilahan sampah, pemerintah juga akan meluncurkan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy di Bali.
Ia menyebut peluncuran pembangunan PSEL tersebut dijadwalkan berlangsung pada Rabu (8/7) dan menjadi yang pertama di Indonesia.
“Besok kita akan launching PSEL di Bali. Ini yang pertama. Bali menjadi daerah pertama yang meluncurkan pembangunan fasilitas ini karena daerah lain belum siap,” kata Zulkifli Hasan.
Menurutnya, teknologi waste to energy dengan sistem insinerator modern telah banyak diterapkan di berbagai negara dan dinilai mampu menjadi solusi atas persoalan penumpukan sampah yang selama ini memicu berbagai permasalahan lingkungan, termasuk kebakaran di tempat pembuangan akhir (TPA).
Ia menyinggung sejumlah insiden kebakaran di TPA yang terjadi di berbagai daerah, termasuk yang menyebabkan korban jiwa, sebagai bukti bahwa persoalan sampah telah memasuki kategori darurat.
“Ini sudah menjadi masalah besar dan masuk kategori darurat. Karena itu harus segera diselesaikan dengan teknologi yang sudah terbukti digunakan di banyak negara,” tegasnya.
Zulkifli menjelaskan, pengolahan sampah melalui PSEL diperkirakan baru mampu menangani sekitar 22 persen persoalan sampah nasional. Karena itu, pemilahan sampah dari sumber tetap menjadi strategi utama yang berpotensi mengurangi volume sampah hingga sekitar 50 persen.
“Pemilahan sampah ini kuncinya. Kalau masyarakat memilah sejak dari rumah, pengurangan sampah bisa mencapai sekitar 50 persen,” katanya.
Ia mengakui tantangan terbesar justru berada di tingkat rumah tangga karena membutuhkan perubahan budaya dan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah.
“Kalau di kantor, sekolah, pasar, atau mal ada organisasi yang mengatur sehingga lebih mudah. Yang paling sulit itu rumah tangga karena harus mengubah kebiasaan. Itu memang membutuhkan waktu,” ujarnya.
Meski demikian, ia optimistis penggunaan alat pengolah sampah organik di tingkat rumah tangga dapat mempercepat perubahan perilaku masyarakat sekaligus mendukung keberhasilan program pengurangan sampah nasional.
Peluncuran pembangunan PSEL di Bali pada Rabu (8/7) dijadwalkan dihadiri Menteri Lingkungan Hidup, Gubernur Bali, para kepala daerah, serta sejumlah wali kota sebagai bagian dari percepatan implementasi pengelolaan sampah berbasis teknologi di Indonesia. (Ketut Winata/balipost)










