Kondisi gedung SMP Satap di Desa Subaya, Kintamani (BP/Ist)

BANGLI, BALIPOST.com – Kondisi bangunan SMP Satu Atap (Satap) di Desa Subaya, Kintamani, Bangli, kini memprihatinkan. Gedung sekolah yang sudah lama tidak dipakai aktivitas belajar mengajar tersebut mengalami banyak kerusakan.

Kerusakan parah terjadi pada bagian atas bangunan. Plafon di dalam ruangan banyak yang jebol. Begitu juga plafon bagian luar.

Penjabat Perbekel Subaya I Wayan Teka mengungkapkan, sekolah tersebut memiliki tiga ruang kelas dan satu ruang perpustakaan. Tak hanya mengalami kerusakan pada bagian atap dan plafon, kondisi tembok bangunan juga retak-retak akibat dampak guncangan gempa bumi terdahulu.

Saat ini dua ruangan yang ada dimanfaatkan sebagai ruang kelas V dan gudang oleh SD setempat. Sementara satu ruangan digunakan untuk PAUD. “Bangunan perpustakaan yang posisinya terpisah tidak terpakai karena atapnya sudah hancur,” ujarnya diwawancara belum lama ini.

Baca juga:  Beroperasi Tanpa Izin Cukai, DPMPTSP Klungkung Datangi Jivva Beach Club

Dijelaskan bahwa SMP satap di Subaya sudah tidak aktif beroperasi sekitar 3-4 tahun terakhir. Lumpuhnya operasional sekolah tersebut bukan karena kekurangan murid, melainkan akibat ketiadaan tenaga pengajar. Akibat kondisi itu, anak-anak lulusan SD di desa setempat terpaksa harus bersekolah ke SMP lainnya. Pilihan terdekat adalah SMPN 7 Kintamani di wilayah Desa Sukawana yang jaraknya sekitar 7 kilometer. Jarak yang cukup jauh membuat biaya pendidikan menjadi sangat mahal secara tidak langsung.

“Untuk sekolah, anak-anak sekarang harus punya modal sepeda motor. Kalau tidak punya motor, otomatis mereka out (putus sekolah). Jadi syarat pertama kalau mau melanjutkan sekolah, harus punya sepeda motor,” ungkapnya.

Saat ini, pihak desa mencatat ada sekitar 30 anak di Subaya yang terpaksa menempuh jarak jauh demi bersekolah di SMPN 7 Kintamani. Sementara tahun ini ada sekitar 20 anak lulusan SD yang akan melanjutkan sekolah ke jenjang SMP.

Baca juga:  "Calon" Jadi Menu Wajib saat Kuningan di Bali, Simak 5 Fakta Menariknya

I Wayan Teka berharap pemerintah daerah menempatkan tenaga pengajar tetap, agar anak-anak setempat bisa kembali bersekolah di desa mereka sendiri tanpa harus menempuh jarak yang jauh. Harapan serupa juga disampaikan Windya warga Subaya. Dia berharap sekolah tersebut bisa diaktifkan kembali supaya siswa tidak harus jauh bersekolah.

“Ya kalau musim kemarau seperti sekarang. Kalau hujan angin, anak-anak tidak bisa sekolah. Apalagi kalau ada bencana pohon tumbang, longsor bisa satu Minggu tidak sekolah,” kata Windya.

Dikonfirmasi terkait hal itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bangli Komang Pariartha membenarkan bahwa sekolah SMP Satap di Desa Subaya tersebut sudah tidak aktif beroperasi sejak empat tahun terakhir. Akibat lama tidak aktif, sekolah tersebut otomatis sudah tidak lagi tercatat dalam data Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Baca juga:  H-2 Nyepi Truk Poros Tiga Dilarang Beroperasi, Logistik Dijamin Aman

Pariartha menjelaskan, mandeknya operasional sekolah dipicu oleh beberapa faktor. Selain karena kendala geografis yang jauh sehingga tidak ada guru yang mengajar ke sana, sebagian orang tua di desa setempat juga memilih untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke SMP lain, termasuk ke wilayah kota Bangli.

Merespons adanya harapan warga yang menginginkan sekolah tersebut diaktifkan kembali, Pariartha menyatakan siap melakukan penelusuran terlebih dahulu. Namun demikian, dia mengatakan operasional sekolah hanya bisa dihidupkan kembali jika ada komitmen penuh dari masyarakat untuk tidak menyekolahkan anaknya ke tempat lain. “Kalau didukung masyarakat, kami siap memfasilitasi untuk menghidupkan kembali. Sudah barang tentu kami akan bertemu dengan perbekel dan tokoh masyarakat di sana,” tegas Pariartha. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN