Krama Desa Adat Kesiman melakukan ritual mengawali prosesi Ngarebong, Minggu (11/5/2025). (BP/sue)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dalam prosesi Ngerebong yang digelar Desa Adat Kesiman setiap enam bulan sekali, pelaksanaan tabuh rah atau tajen (sabung ayam) menjadi tradisi wajib. Pelaksanaan tabuh rah ini tidak digelar di hari lain melainkan hanya saat prosesi Ngerebong.

Hal tersebut ditegaskan Bendesa Adat Kesiman, Jro Ketut Wisna, Jumat (3/7). Dia mengatakan, tabuh rah ini bukan judi melainkan rangkaian yang wajib dilakukan sebelum prosesi Ngerebong dimulai.

Dia menjelaskan, tabuh rah ini merupakan persembahan kepada bhuta kala yang dilakukan di wantilan setempat. Wantilan khusus penyelenggaraan tabuh rah ini pun sudah ada sejak dulu dan hanya difungsikan saat pelaksanaan Ngerebong.

Baca juga:  Penonton di Arena Pertandingan PON XX Papua Wajib Vaksin Dosis Kedua

Tabuh rah ini, kata dia, merupakan simbolik dari bhuana atau dunia ini. Pelaksanaan tabuh rah ini menggambarkan filosofi suka, duka, menang dan kalah yang selalu ada di dunia ini. “Jadi tabuh rah ini menjadi simbol apa yang ada di dunia ini. Suka, duka, menang dan kalah semua itu ada,” katanya.

Pada Ngerebong yang digelar Minggu, 5 Juli nanti, tabuh rah dilakukan pagi hari sebelum proses ngerebong berlangsung yakni sekitar pukul 08.00 WITA. Tradisi ini pun mengawali pelaksanaan prosesi di hari tersebut.

Baca juga:  Rencana Pusat Kebudayaan Bali, Potensi Ini Wajib Diantisipasi

Demikian Jro Mangku Wisna atau akrab disapa JMW mengatakan, keesokan harinya atau pada Senin 6 Juli akan digelar tajen suryak. Berbeda dengan tabuh rah yang ada suasana suka, duka, kalah dan menang, pada tajen surya ini yang ada hanya kegembiraan. “Tajen ini dilakukan dengan riang, tidak ada menang kalah, semua ceria saat itu,” ungkapnya.

Seperti Pengerebongan sebelumnya, pada prosesi Ngerebong saat ini juga digelar beragam kegiatan. Seperti lomba ngelawar dan vlog, festival penjor, pameran produk UMKM, hingga pentas budaya.

Baca juga:  Ini, Jadwal Salat Denpasar dan Sekitarnya 4 April 2026

Puncak prosesi Ngerebong akan berlangsung pada Minggu 5 Juli yang diawali dengan tabuh rah, pertunjukan tabuh lelambatan, gong gede dan Sancaya Kanti, kemudian dilanjutkan Nglungayang Ida Betaha.

Ngerebong akan berlangsung pada pukul 16.00 WITA dan malamnya dilanjutkan dengan pentas budaya. Untuk pemasangan penjor sendiri akan berlangsung sejak Sabtu 4 Juli. Prosesi Ngerebong rutin dilakukan setiap enam bulan sekali tepatnya 8 hari setelah Kuningan. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN