
DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Denpasar mencatat inflasi tahunan atau year on year (yoy) pada Juni 2026, sebesar 3,46 persen. Kenaikan harga bahan bakar minyak atau bensin menjadi salah satu penyumbang utama pada inflasi tahunan, termasuk bulanan.
Berdasarkan data yang diunduh dari https://denpasarkota.bps.go.id, komoditas yang dominan memberikan andil inflasi tahunan pada Juni 2026 yakni, bensin, emas perhiasan, beras, sewa rumah, biaya pendidikan SMA, cabai rawit, Sigaret Putih Mesin (SPM), nasi dengan lauk, pepes, angkutan udara, kue basah, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, bawang merah, biaya bimbingan belajar, canang sari, pepaya, daging babi, daging ayam ras, dan cabai merah.
Sementara itu, secara month to month (mtm) atau bulanan Denpasar juga mencatatkan inflasi sebesar 0,75 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi bulanan pada Juni 2026, antara lain, bensin, canang sari, daging babi, wortel, bawang merah, minyak goreng, bawang putih, sewa rumah, tukang bukan mandor, kasur, Sigaret Putih Mesin (SPM), buncis, tongkol diawetkan, pisang, kacang panjang, tarif dokter spesialis, pemeliharaan/service, ongkos binatu/laundry, ikan kembung, dan ketimun.
Kabag Ekonomi Setda Kota Denpasar, I Putu Agus Jayadi, Jumat (3/7) mengatakan dilihat dari inflasi bulanan, bensin masuk 5 komoditas utama penyumbang inflasi. Kondisi ini juga sejalan dengan kelompok transportasi yang jadi penyumbang terbesar inflasi bulanan sebesar 0,39 persen.
Jayadi menerangkan pada inflasi tahunan, bensin tetap menjadi komoditi yang dominan bersama emas, beras, sewa rumah, dan biaya pendidikan SMA sebagai pemberi andil. Demikian kelompok transportasi mengalami kenaikan atau inflasi sebesar 5,20 persen. Kelompok inipun memberi andil tertinggi pada inflasi Juni di antara semua kelompok pengeluaran, yakni sebesar 0,64 persen. “Terkait Bensin naik, tekanan bukan sekadar shock harga sesaat, tapi trend yang persisten selama setahun terakhir,” katanya.
Sebagai upaya menekan laju inflasi, Jayadi mengatakan, dalam jangka pendek, upaya yang dilakukan berupa, pasar murah atau operasi pasar terfokus pada komoditas yang mengalami kenaikan. Seperti canang sari, daging babi, wortel, bawang merah, minyak goreng. “Kegiatan ini juga bisa dikombinasikan dengan subsidi ongkos angkut untuk meredam efek rambatan BBM ke distribusi,” jelasnya.
Demikian dari Disperindag juga melakukan koordinasi dengan Pertamina/Hiswana Migas terkait pasokan dan disparitas harga BBM subsidi dengan nonsubsidi di SPBU Denpasar.
Jayadi menjelaskan, BBM adalah biaya input hampir di semua rantai distribusi pangan dan barang pokok di Denpasar. “Polanya sudah kelihatan, keompok makanan-minuman-tembakau naik 4,32 persen (yoy), dan biaya distribusi (ongkos angkut pasar ke pasar) ikut terdorong naik oleh harga bensin,” ujarnya.
Risiko ke depan lanjut Jayadi, jika BBM tetap tinggi, akan berdampak pada komoditas pangan segar terutama yang membutuhkan distribusi cepat, seperti sayur dan daging. “Kondisi pun bisa berlanjut ke bulan-bulan berikutnya, apalagi mendekati musim liburan/high season pariwisata yang biasanya menambah tekanan permintaan,” imbuhnya. (Widiastuti/bisnisbali)










