
MANGUPURA, BALIPOST.com – Meski ramai dikunjungi wisatawan, Agro Techno Park (ATP) di Belok Sidan, Kecamatan Petang justru belum memungut biaya masuk. Pemerintah Kabupaten Badung memilih memfokuskan ATP sebagai pusat edukasi pertanian modern dibandingkan destinasi wisata komersial. Kawasan ini kerap dimanfaatkan sebagai lokasi edukasi wisata, khususnya bagi instansi pemerintah, lembaga kemasyarakatan, hingga institusi pendidikan. Mereka datang untuk mempelajari proses budidaya kopi Arabika secara menyeluruh, mulai dari pembibitan hingga pengolahan pascapanen.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana yang dikonfirmasi Rabu (1/7) menjelaskan ATP belum berstatus Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) karena masih harus memenuhi sejumlah persyaratan. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan diarahkan untuk mendukung pengembangan sektor pertanian. “Kita akui sudah banyak yang berkunjung ke Agro Techno Park, namun tidak dipungut biaya,” ungkapnya.
Menurutnya, hingga saat ini ATP lebih banyak menerima kunjungan dari instansi pemerintah, lembaga kemasyarakatan, dan institusi pendidikan yang ingin mempelajari proses budidaya kopi Arabika secara menyeluruh, mulai dari pembibitan hingga pengolahan pascapanen. “Jadi sejak 1 Maret 2026, kawasan tersebut juga telah memiliki Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) tersendiri yang bertugas mengelola seluruh aktivitas disana,” ujarnya.
Dalam operasionalnya, ATP mengadopsi teknologi pertanian modern. Mulai dari penggunaan bibit unggul, pengaturan jarak tanam, pemanfaatan tanaman pelindung, hingga sistem irigasi tetes diterapkan secara konsisten. Teknologi ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas tanaman, bahkan sebagian kopi sudah mulai berbuah sebelum berusia dua tahun.
Seluruh proses budidaya juga mengikuti standar Good Agriculture Practice (GAP). Petani diwajibkan memanen buah kopi merah, melakukan penjemuran hingga kadar air ideal, sortasi biji, hingga proses pemanggangan (roasting) yang tepat.
“Jadi Operasional kawasan sepenuhnya didukung anggaran APBD Kabupaten Badung yang dialokasikan untuk pemeliharaan tanaman, pengadaan pupuk, bahan bakar alat mesin pertanian, penyediaan bibit, serta pembayaran tenaga kerja. Sementara pembangunan fisik tidak lagi menjadi prioritas karena fasilitas yang ada dinilai masih memadai,” bebernya.
Meski memiliki potensi besar sebagai sumber pendapatan daerah, ATP hingga kini belum mampu menjadi pusat penampung hasil panen petani sekitar. Kondisi ini membuat rantai distribusi masih melibatkan tengkulak. Namun demikian, Pemkab Badung membuka peluang pengembangan ATP sebagai pusat keunggulan kopi atau center of excellence di masa depan. Upaya integrasi sektor pertanian dan pariwisata juga mulai dirancang melalui konsep agrowisata.
“Untuk membangkitkan target integrasi pertanian dan pariwisata (agrowisata), kami juga berencana menghidupkan kembali acara tahunan seperti Hari Kopi dan Pasar Agro untuk mempertemukan petani dengan pembeli langsung di lokasi. Selain itu memperkenalkan potensi kopi Arabika Badung kepada masyarakat dan wisatawan,” imbuhnya.
Diketahui, kawasan ATP memiliki luas 14,87 hektare dengan komoditas utama kopi Arabika. Pengembangannya turut didukung kerja sama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia pada 2023 hingga 2025, khususnya dalam pendampingan teknis dan pengolahan kopi. Tak hanya itu, ATP juga menjalankan Program SIDUTA (Siswa Edukasi Wisata) guna mengenalkan budidaya kopi sejak dini kepada pelajar, sekaligus memperkuat regenerasi sektor pertanian di Badung.(Parwata/balipost)










