Suasana Diskusi Budaya yang digelar Kawiya Bali bersama PWI Bali serangkaian PKB XLVIII Tahun 2026, di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Jumat (19/6). (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Di tengah gegap gempita perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang selama ini dikenal sebagai etalase seni budaya Bali, muncul perspektif berbeda yang menempatkan PKB bukan semata panggung pertunjukan, melainkan bagian dari proses panjang pemulihan dan rekonstruksi kebudayaan Bali pascatragedi 1965–1966.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Diskusi Budaya yang digelar Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya Bali) bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali serangkaian PKB XLVIII Tahun 2026, di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Jumat (19/6).

Diskusi yang menghadirkan akademisi Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha dan Dr. I Kadek Suartaya itu menyoroti sisi historis PKB yang jarang dibicarakan: lahir dari kebutuhan menyelamatkan seniman dan memastikan kesinambungan pengetahuan budaya di tengah situasi sosial-politik yang terguncang pasca 1965–1966.

Baca juga:  Von Hatch, Sang Peneliti dan Pelatih Semara Pagulingan

Prof. Arya Sugiartha menegaskan bahwa lahirnya PKB tidak bisa dilepaskan dari upaya pemulihan ekosistem seni Bali yang sempat terguncang. Menurutnya, pembentukan lembaga kesenian seperti Listibiya serta berdirinya Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) pada 1967 menjadi fondasi penting regenerasi seniman.

“PKB itu bukan sekadar festival. Ia kelanjutan dari upaya penyelamatan seni, termasuk Merdangga Utsawa Gong Kebyar dan Pesta Seni Werdi Budaya, sebelum kemudian diformalkan pada era Gubernur Ida Bagus Mantra,” ujarnya.

Dalam perspektif ini, PKB diposisikan sebagai “ruang pemulihan budaya” yang kemudian berkembang menjadi ekosistem kebudayaan modern: ruang pertunjukan, pendidikan, dokumentasi, hingga dialog lintas generasi.

Namun, tantangan baru muncul di era kekinian. Arya menilai generasi muda kini unggul dalam teknologi dan jejaring global, tetapi berisiko terlepas dari akar etika tradisi jika tidak dibimbing secara berimbang oleh seniman senior.

Baca juga:  Denpasar Laporkan Puluhan Kasus Baru, Tambahan Pasien COVID-19 Sembuh di Bawah 10

Sementara itu, Dr. I Kadek Suartaya menyoroti aspek yang selama ini dianggap “tak terlihat” dalam PKB: gagasan dan pemikiran para maestro. Menurutnya, yang paling rentan hilang bukan hanya karya seni, tetapi pengetahuan di balik lahirnya karya tersebut.

“Yang sering tidak terdokumentasi adalah cara berpikir para maestro. Padahal itu aset peradaban,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya PKB berkembang menjadi ruang arsip hidup budaya Bali—bukan hanya panggung pertunjukan, tetapi juga ruang dokumentasi gagasan, diskusi, dan transfer pengetahuan antar generasi.

Dari sisi panitia, Ketua Panitia Diskusi Budaya Kawiya Bali, I Made Subrata, menyebut kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi budaya menjelang 50 tahun perjalanan PKB. Diskusi ini juga dirancang sebagai ruang refleksi terhadap misi PKB: menggali, melestarikan, dan mengembangkan seni Bali.

Baca juga:  Polisi Pastikan Perampok Gunakan Pistol Mainan

Kawiya Bali sendiri tercatat aktif dalam berbagai kegiatan seni-budaya, mulai dari pementasan teater “Jaratkaru” pada Bulan Bahasa Bali 2026, “Nguber Berita Ke Nusa” pada Festival Seni Bali Jani 2023, hingga “Arja Tak Jadi Mati” dalam PKB 2025.

Dengan rangkaian diskusi yang terus berlanjut, PKB kini dipandang bukan hanya sebagai festival tahunan, melainkan medan penting pertemuan antara memori sejarah, regenerasi seniman, dan tantangan menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi.

Jika sebelumnya PKB identik dengan kemeriahan panggung, maka dalam perspektif baru ini, panggung itu ternyata berdiri di atas lapisan yang lebih dalam: ingatan kolektif, trauma sejarah, dan upaya panjang merawat keberlanjutan budaya Bali. (Adv/balipost)

BAGIKAN