
DENPASAR, BALIPOST.com – Kemegahan pementasan Peed Aya atau pawai budaya dalam rangka pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 mendapat apresiasi tinggi dari dua wakil menteri (Wamen) yang hadir langsung menyaksikan jalannya pergelaran di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon, Denpasar, Sabtu (13/6).
Pelepasan Peed Aya secara resmi dilakukan oleh Gubernur Bali, Wayan Koster. Ribuan seniman dari seluruh kabupaten/kota di Bali tampil menampilkan ragam seni, tradisi, dan kreativitas budaya yang menggambarkan kekayaan warisan adiluhung Pulau Dewata.
Wamen Pariwisata, Ni Luh Enik Ermawati, mengaku sangat terkesan dengan konsistensi Pemerintah Provinsi Bali dalam menyelenggarakan PKB yang telah memasuki tahun ke-48.
“PKB ini luar biasa. Tahun lalu ada sekitar 1,6 juta orang yang menyaksikan PKB dengan perputaran ekonomi mencapai Rp17 miliar. Tentu atraksi maupun pentas kesenian seperti ini menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan,” ujarnya saat diwawancara usai pementasan.
Menurutnya, penyelenggaraan PKB yang bertepatan dengan masa libur sekolah dan musim liburan (summer holiday) menjadi momentum strategis untuk menarik lebih banyak kunjungan wisatawan ke Bali.
Ia juga mengapresiasi PKB yang selama enam tahun berturut-turut masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), sebuah program nasional yang menampilkan berbagai agenda unggulan daerah.
“Kami sangat mengapresiasi Pemerintah Provinsi Bali yang konsisten menggelar kegiatan ini selama 48 tahun. Kami sangat senang dengan acara ini. Tahun ini targetnya sekitar 1,6 juta pengunjung, dan mudah-mudahan bisa melampaui angka tersebut,” katanya.
Sementara itu, Wamen Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Wakil Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menilai keterlibatan anak-anak dan generasi muda dalam Peed Aya merupakan bukti nyata keberlangsungan regenerasi pelaku seni dan budaya Bali.
“Dari yang kita lihat tadi, banyak sekali anak-anak dan generasi muda yang ikut berpartisipasi. Ini merupakan wujud nyata bahwa generasi muda tetap bisa melestarikan budaya, terutama budaya Bali,” ungkapnya.
Menurut Isyana, setiap kabupaten dan kota tidak hanya menampilkan kekhasan budaya masing-masing, tetapi juga menunjukkan semangat regenerasi melalui keterlibatan generasi penerus calon seniman dan penari yang akan menjaga keberlanjutan budaya menuju Indonesia Emas 2045.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap keterlibatan penyandang disabilitas dalam pementasan Peed Aya yang mencerminkan semangat inklusivitas dalam pelestarian budaya.
“Luar biasa sekali, karena ini memperlihatkan bahwa bagaimana pun kondisi kita, kita semua tetap dapat terlibat. Penyandang disabilitas, semuanya dapat ikut melestarikan budaya kita. Tidak ada yang tertinggal, semua dapat bersama-sama melestarikan budaya, terutama budaya Bali,” tegasnya.
Pementasan Peed Aya sebagai pembuka PKB XLVIII Tahun 2026 kembali membuktikan bahwa seni dan budaya Bali tidak hanya menjadi identitas masyarakat, tetapi juga memiliki kekuatan sebagai penggerak pariwisata, ekonomi kreatif, sekaligus ruang pendidikan budaya yang inklusif bagi generasi masa depan. (Ketut Winata/balipost)










