
DENPASAR, BALIPOST.com – Lonjakan kunjungan wisatawan saat musim libur sekolah menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Bali. Di tengah tren peningkatan jumlah wisatawan yang terus mencetak angka tinggi pascapandemi, pengelolaan kepadatan destinasi, keamanan wisatawan, hingga persoalan sampah menjadi fokus utama pembenahan sektor pariwisata.
Untuk memastikan kesiapan tersebut, Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Bali telahmenggelar rapat koordinasi bersama Dinas Pariwisata kabupaten/kota se-Bali di Denpasar, Kamis (11/6). Rapat tersebut merupakan tindak lanjut Surat Edaran Menteri Pariwisata terkait penyelenggaraan kegiatan wisata yang aman, nyaman, dan menyenangkan selama libur sekolah 2026.
Kadispar Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, mengatakan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan harus diimbangi dengan pengelolaan destinasi yang lebih baik. Pemerintah daerah diminta melakukan pemantauan terhadap tingkat kunjungan, terutama di objek wisata yang berpotensi mengalami lonjakan pengunjung.
“Destinasi menjadi salah satu hal yang penting karena itu menjadi tujuan wisatawan, sehingga perlu dilakukan persiapan. Dari segi keselamatan dan rambu-rambu apa yang harus ada menjadi perhatian kita bersama. Intinya untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan kepada wisatawan,” ujarnya saat diwawancara, Jumat (12/6).
Dispar Bali mencatat kebangkitan pariwisata terus menunjukkan tren positif. Jumlah wisatawan mancanegara yang sempat terpuruk pada 2021 dengan hanya 51 kunjungan, meningkat menjadi 2,15 juta orang pada 2022, lalu 5,27 juta pada 2023, dan mencapai 6,94 juta kunjungan pada 2025. Hingga Mei 2026, kunjungan wisman telah mencapai sekitar 2,6 juta orang lebih,
Sementara itu, wisatawan nusantara masih menjadi pasar terbesar dengan capaian puncak 10,12 juta perjalanan pada 2024 dan mencapai m 4,1 juta lebih kunjungan hingga Mei 2026. Pada periode libur sekolah tahun ini, peningkatan kunjungan wisnus diproyeksikan naik sekitar 10–15 persen dibanding hari biasa.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah daerah diminta menerapkan sejumlah langkah mitigasi. Mulai dari pemantauan data kunjungan secara real-time, pengaturan kapasitas destinasi, digitalisasi tiket masuk, hingga mengarahkan wisatawan ke destinasi alternatif dan desa wisata agar tidak terjadi penumpukan di lokasi tertentu.
Koordinasi dengan kepolisian, Balawista, dan instansi terkait juga diperkuat untuk mengantisipasi persoalan keamanan, kemacetan, kecelakaan wisata, maupun risiko bencana di kawasan wisata alam dan bahari.
Tak hanya soal kenyamanan wisatawan, dikatakan rapat koordinasi tersebut juga menjadi momentum penegasan komitmen pelaku usaha pariwisata terhadap kebijakan lingkungan. Sektor hotel, restoran, dan kafe kembali diingatkan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta menerapkan pengelolaan sampah berbasis sumber.
“Kami juga menekankan kebijakan Pak Gubernur agar tetap melaksanakan pembatasan plastik sekali pakai, mengolah sampah organik di tempatnya, dan memilah sampah minimal menjadi tiga kategori, yaitu organik, anorganik, dan lainnya,” kata Sumarajaya.
Dengan jumlah kunjungan yang terus meningkat, Bali kini tidak hanya mengejar kuantitas wisatawan, tetapi juga memastikan kualitas pengelolaan destinasi agar pengalaman berwisata tetap aman, nyaman, dan berkelanjutan. (Ketut Winata/balipost)










