Penampilan Drama Gong di Kalangan Ayodya Art Centre Denpasar, Kamis, (3/7/2025) malam. (BP/Dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Drama Gong duta Kota Denpasar dipastikan tidak akan tampil pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 tahun 2026. Padahal, duta drama gong Kota Denpasar tidak pernah absen pada ajang pementasan kesenian tahunan tersebut.

Kepala Bidang Kesenian, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Wayan Narta saat dikonfirmasi, Selasa (9/6) mengatakan, ada beberapa alasan yang membuat drama gong Denpasar absen tahun ini. Terutama kendala pada regenerasi khususnya sekaa gong pengiring Drama Gong.

“Mencari seka gong pengiringnya ini yang paling susah. Tidak semua mau, apalagi pertujukan drama gong ini memakan waktu yang cukup lama,” ujarnya.

Baca juga:  Gara-gara Ini, Anggota Ormas Ditangkap

Menurut Narta, Drama Gong membutuhkan kemampuan kompleks, mulai dari olah dialog, kemampuan menembang, improvisasi, hingga penguasaan karakter tradisional Bali. Minat generasi muda saat ini dikatakannya juga minim untuk bermain drama gong. Berbeda halnya bleganjur atau barong yang masih banyak peminatnya.

Meski demikian, Denpasar tetap menunjukkan komitmennya dalam pelestarian seni budaya Bali. Pada Pesta Kesenian Bali, Kota Denpasar tercatat mengirim sebanyak 21 materi dan kegiatan kesenian yang akan tampil di berbagai panggung PKB.

Pemkot Denpasar tahun ini lebih menitikberatkan pengiriman duta berdasarkan akar historis dan kekuatan seni yang memang tumbuh di desa adat tertentu. Salah satunya adalah pengiriman duta Arja klasik khas Banjar Bukit Buwung, Desa Adat Kesiman Petilan.

Baca juga:  Petakan dan Selesaikan Persoalan Transportasi Online, Ditlantas Polda Bali Lakukan Ini

Menurut I Wayan Narta, keberadaan seni Arja di kawasan Kesiman memiliki jejak sejarah yang kuat. Bahkan, sejumlah atribut dan perlengkapan kesenian lama seperti gelungan Arja masih tersimpan dan kembali diangkat sebagai bagian dari upaya revitalisasi seni tradisi.

“Secara historis memang ada kesenian Arja di desa tersebut. Itu yang sekarang kami angkat kembali,” katanya.

Arja sendiri merupakan salah satu seni dramatari klasik Bali yang memadukan unsur tembang, dialog, tari, dan lawakan. Di Kota Denpasar, kesenian ini pernah berkembang kuat di sejumlah wilayah seperti Kesiman, Pedungan, hingga Sanur. Namun dalam beberapa dekade terakhir, keberadaannya mulai digeliatkan oleh generasi pelaku seni.

Baca juga:  Dari Tukang Bakso Kaget Lihat Pria Tergantung hingga Pembukaan Pariwisata Tak “PHP”

Selain Arja, Denpasar juga masih memiliki sejumlah kesenian klasik yang tetap dijaga. keberlangsungannya, seperti kesenian Joged Gandrung, Gambuh, Wayang Wong, Topeng Pajegan, hingga Gender Wayang. Beberapa di antaranya bahkan terus dikembangkan melalui sanggar-sanggar seni berbasis desa adat serta pembinaan generasi muda. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN