Penampilan mahasiswa/i ISI Bali dalam pembukaan Peed Aya Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII 2025 di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Denpasar, Sabtu (21/6). PKB 2025 ini diikuti ribuan seniman dari berbagai daerah di Bali. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali terus melakukan berbagai pembenahan menjelang pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII akan dibuka pada 13 Juni 2026. Selain memperkuat pelayanan administrasi bagi seniman dan kelompok kesenian, panitia juga melakukan penataan konsep pawai budaya (Peed Aya) agar lebih atraktif dan sesuai dengan karakter pawai berjalan.

Kadisbud Bali, Ida Bagus Alit Suryana, mengatakan salah satu kendala yang selama ini kerap dihadapi dalam proses fasilitasi kelompok seni adalah persoalan kelengkapan dokumen administrasi. Menurutnya, banyak kelompok seni yang sebenarnya telah siap mendapatkan dukungan pemerintah, namun proses pencairan dan fasilitasi sering terkendala karena dokumen yang belum lengkap.

“Pengalaman kami selama ini, ketika semua sudah siap, sering kali masih ada dokumen yang belum dipenuhi. Padahal sebagai pemerintah, kami harus bekerja berdasarkan aturan dan kelengkapan administrasi,” ujarnya pada rapat persiapan PKB di Kantor Disbud Bali, Jumat (5/6).

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disbud Bali akan menerapkan pola pendampingan yang lebih awal. Kelompok-kelompok seni yang diproyeksikan tampil pada tahun berikutnya akan diminta menyiapkan dokumen sejak dini sehingga proses administrasi dapat berjalan lebih lancar.

Baca juga:  Telkomsel Dukung Konektivitas Digital Sportel Rendez-Vous Bali

“Kami sudah bisa memetakan kelompok-kelompok yang kemungkinan akan tampil pada tahun berikutnya. Karena itu, sejak awal kami akan meminta kelengkapan dokumen sehingga ketika proses fasilitasi dimulai semuanya sudah siap. Ini bagian dari inovasi pelayanan kami kepada para seniman dan pekerja budaya,” jelasnya.

Sementara itu, terkait pelaksanaan Peed Aya PKB 2026, Kurator PKB, Prof. I Made Bandem, menjelaskan bahwa konsep pawai tahun ini dirancang lebih dinamis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kontingen peserta diharapkan tidak lagi terlalu lama berhenti untuk melakukan pertunjukan statis di titik tertentu.

Menurut Bandem, tim kurator telah turun langsung ke kabupaten/kota untuk memberikan arahan kepada para pembina dan penggarap sejak beberapa minggu lalu. Berbagai masukan telah diberikan agar setiap kontingen dapat menyesuaikan konsep pertunjukannya dengan karakter pawai berjalan.

“Kami sudah berdiskusi dengan seluruh penggarap. Mereka diminta mengambil bagian-bagian puncak dari cerita atau materi yang dibawakan sehingga dapat tetap ditampilkan sambil bergerak. Dengan demikian pawai akan lebih hidup dan tidak menimbulkan antrean panjang,” katanya.

Baca juga:  Pemprov Bali Raih Predikat Terbaik IV Pengelola JDIHN

Ia mengakui selama ini masih ada sejumlah kontingen yang tampil melebihi waktu yang telah ditentukan. Padahal dalam satu kontingen bisa melibatkan ratusan peserta sehingga berpotensi mengganggu kelancaran keseluruhan rangkaian pawai.

“Waktu ideal yang kami tetapkan sekitar 15 menit. Namun sering kali ada yang tampil sampai 18 menit, 20 menit bahkan 22 menit. Tahun ini kami berupaya agar durasi lebih terkendali sehingga seluruh peserta mendapatkan kesempatan yang seimbang,” tegasnya.

Pandangan serupa disampaikan kurator lainnya, Prof. I Made Dibia. Ia optimistis Peed Aya tahun ini akan tampil lebih baik karena proses latihan dan peragaan telah dilakukan dalam format berjalan, bukan lagi hanya di dalam wantilan seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Prosesi yang ditampilkan akan lebih realistis karena sejak latihan sudah menggunakan pola bergerak di lapangan. Harapannya pawai ini benar-benar menjadi pertunjukan berjalan, bukan pertunjukan panggung yang dipindahkan ke jalan,” ujarnya.

Baca juga:  Sambut Hari Suci Galungan dan Kuningan, Pemprov Bali Gelar Pasar Gotong Royong

Untuk menjaga kelancaran arus pawai, pihak kurator juga meminta agar peserta tidak menggunakan dalang atau dialog panjang yang menyebabkan rombongan berhenti terlalu lama.

“Narasi tetap diperbolehkan, tetapi penggunaan dalang tidak dianjurkan karena bisa memicu dialog yang membuat peserta berhenti di satu titik. Ini akan menghambat alur pawai,” jelas Dibia.

Selain penataan peserta, aspek kenyamanan penonton juga menjadi perhatian. Penonton akan ditempatkan di area tribun yang telah disiapkan sepanjang jalur pawai sehingga peserta dapat menampilkan atraksi hingga ke ujung rute tanpa terganggu oleh kerumunan yang masuk ke badan jalan.

“Dengan penataan tribun yang lebih baik, masyarakat bisa menikmati atraksi sampai akhir lintasan. Ini akan mendukung tujuan kami menghadirkan Peed Aya sebagai pertunjukan budaya berjalan yang tertib, dinamis, dan menarik,” katanya.

Berbagai pembenahan tersebut diharapkan mampu menghadirkan wajah baru PKB XLVIII Tahun 2026, baik dari sisi pelayanan kepada seniman maupun kualitas penyelenggaraan Peed Aya sebagai salah satu atraksi utama yang selalu dinantikan masyarakat Bali dan wisatawan. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN