Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat inflasi tahunan (yoy) sebesar 2,99 persen pada Mei 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Mei 2025 yang sebesar 1,92 persen, namun masih lebih rendah dibandingkan Mei 2024 yang mencapai 3,54 persen.

Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan mengatakan berdasarkan wilayah cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali, seluruh daerah tercatat mengalami inflasi, baik secara bulanan maupun tahunan.

Kota Singaraja mencatat inflasi 0,37 persen secara bulanan dan 3,17 persen secara tahunan. Kabupaten Tabanan mengalami inflasi 0,54 persen secara bulanan dan 2,78 persen secara tahunan.

Baca juga:  Tambah Rombel, Tahun Ini Ada 5 Sekolah Dibangun

Kabupaten Badung mencatat inflasi 0,25 persen secara bulanan dan 2,64 persen secara tahunan. Sementara Kota Denpasar mengalami inflasi 0,50 persen secara bulanan dan 3,19 persen secara tahunan.

Dengan demikian, tingkat inflasi tahunan tertinggi pada Mei 2026 terjadi di Kota Denpasar sebesar 3,19 persen, sedangkan yang terendah tercatat di Kabupaten Badung sebesar 2,64 persen.

Ia menyampaikan, dari sisi kelompok pengeluaran, makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan tingkat inflasi 4,56 persen dan andil 1,44 persen terhadap total inflasi tahunan.

Baca juga:  Konsumsi Rumah Tangga Triwulan III Naik 5,39 Persen

Kelompok transportasi mencatat inflasi 3,03 persen dengan andil 0,33 persen. Sementara kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 2,27 persen dengan andil 0,31 persen.

Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi 2,98 persen dan menyumbang 0,29 persen terhadap inflasi. Adapun kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 2,36 persen dengan andil 0,23 persen.

Kelompok pendidikan mengalami inflasi 3,09 persen dengan andil 0,21 persen, sedangkan kelompok kesehatan mencatat inflasi 1,33 persen dengan andil 0,03 persen.

Secara data komoditas tahunan, ia mengatakan, cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi Bali. Harga cabai rawit tercatat meningkat 113,16 persen dibandingkan Mei 2025 dan memberikan andil 0,33 persen terhadap inflasi tahunan.

Baca juga:  Diduga Gara-gara Ini, 3 Warga Australia Dipulangkan

Komoditas berikutnya adalah beras yang mengalami inflasi 3,31 persen dengan andil 0,16 persen. Daging ayam ras mengalami inflasi 5,73 persen dengan andil 0,15 persen.

Emas perhiasan mencatat inflasi 44,81 persen dan memberikan andil 0,15 persen terhadap inflasi. Sementara angkutan udara mengalami inflasi 39,49 persen dengan andil 0,10 persen dan cabai merah mengalami inflasi 88,58 persen dengan andil 0,10 persen. (kmb/balipost)

BAGIKAN