
DENPASAR, BALIPOST.com – Kenaikan nilai tukar Dolar Amerika Serikat terhadap rupiah membawa dampak ganda bagi ekonomi Bali. Secara positif, menguatnya dolar membuat biaya liburan lebih murah bagi wisatawan asing sehingga mendongkrak daya beli mereka di Bali. Sebaliknya, hal ini meningkatkan biaya operasional akibat mahalnya harga bahan baku barang impor.
Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Perekonomian dan Keuangan, I Wayan Ekadina mengatakan, tingginya nilai dolar membuat Bali semakin kompetitif dibanding destinasi wisata lain di Asia Tenggara.
“Kalau kita bicara positifnya, Bali menjadi lebih unggul dibanding destinasi wisata lain di Asia karena kompensasi dolar itu. Wisatawan asing merasa biaya liburan lebih murah sehingga daya beli mereka meningkat,” ujarnya, Selasa (26/5).
Menurutnya, wisatawan mancanegara yang menukarkan dolar ke rupiah memiliki anggaran lebih besar untuk berbelanja selama berlibur di Bali. Kondisi itu berdampak langsung terhadap sektor hotel, restoran, spa, hingga penjualan suvenir dan produk ekonomi kreatif lokal.
“Kalau kunjungan wisatawan meningkat, otomatis perputaran ekonomi pariwisata ikut bergerak. Pendapatan dari sektor hospitality juga terdorong,” katanya.
Namun di balik meningkatnya kunjungan wisatawan asing, Ekadina mengingatkan adanya konsekuensi terhadap biaya produksi industri pariwisata. Sejumlah hotel dan restoran di Bali masih bergantung pada bahan baku impor seperti daging, wine, hingga perlengkapan berstandar internasional.
“Biaya produksi pasti meningkat karena bahan baku impor ikut naik. Bisa saja harga tetap, tetapi porsinya dikurangi agar biaya operasional tetap tertutupi,” jelasnya.
Ia mencontohkan, pelaku usaha dapat menyiasati kenaikan biaya dengan mengurangi kuantitas produk tanpa menaikkan harga secara signifikan. Kondisi itu dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi industri pariwisata Bali yang ingin tetap kompetitif.
Selain sektor usaha, penguatan dolar juga berdampak pada daya beli masyarakat lokal. Kenaikan harga barang impor dan BBM non subsidi disebut berpotensi memicu inflasi serta meningkatkan biaya hidup masyarakat.
“Kalau dolar naik tentu daya beli masyarakat lokal bisa menurun. Apalagi kalau diikuti kenaikan BBM non subsidi, pasti akan berdampak ke sektor lain,” ujarnya.
Meski demikian, Ekadina menilai inflasi tidak selalu berdampak buruk selama pertumbuhan ekonomi daerah tetap bergerak. Ia menyebut sektor pariwisata masih mendominasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali dengan kontribusi sekitar 56 hingga 60 persen.
“Pariwisata Bali masih menjadi motor ekonomi utama. Tetapi semakin banyak wisatawan datang, kita juga harus siap dari sisi budaya, infrastruktur, hingga lingkungan,” katanya.
Untuk mengantisipasi dampak fluktuasi mata uang global, dikatakan Pemerintah Provinsi Bali terus memperkuat penggunaan produk lokal melalui Pergub Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemanfaatan dan Pemasaran Produk Pertanian, Perikanan, dan Industri Lokal Bali.
Menurut Ekadina, regulasi tersebut menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memberdayakan petani, nelayan, perajin, dan UMKM lokal.
“Kalau produk lokal kita kuat, otomatis ketergantungan impor bisa ditekan. Sayur, buah, hingga kebutuhan upacara sebaiknya memanfaatkan produk lokal Bali,” ujarnya.
Ia menambahkan, momentum hari raya keagamaan seperti Galungan dan Kuningan yang akan datang menjadi kesempatan penting untuk mendorong penggunaan buah dan produk lokal dibanding produk impor.
“Kalau masyarakat memakai produk lokal, uangnya berputar di Bali. Ini juga bisa menekan dampak kenaikan dolar terhadap ekonomi daerah,” katanya.
Ekadina menegaskan keberhasilan implementasi Pergub tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh stakeholder, mulai dari pemerintah, masyarakat hingga sektor swasta.
“Tujuannya jelas, mengurangi impor dan mendorong ekspor produk lokal Bali agar ekonomi daerah lebih kuat menghadapi tekanan global,” tandasnya. (Ketut Winata/balipost)









