Ilustrasi ternak babi. (BP/dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Meningkatnya pemberitaan dan unggahan di media sosial terkait kasus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika di Bali memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat dan peternak. Pemerintah Provinsi Bali pun mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Provinsi Bali menegaskan, ASF merupakan penyakit virus yang menyerang ternak babi dengan tingkat kematian tinggi, namun tidak menular kepada manusia. Daging babi juga dinyatakan tetap aman dikonsumsi selama berasal dari ternak sehat dan diolah dengan benar.

Sebagai langkah antisipasi, Tim Teknis Peternakan dan Kesehatan Hewan Distanpangan Bali bersama dinas terkait di kabupaten/kota telah turun melakukan pemeriksaan lapangan dan pemantauan ternak babi di sejumlah wilayah. Seperti, di daerah Badung, Tabanan dan Gianyar,

Baca juga:  Sinkronkan Data Kemiskinan, Tim Penanggulangan Kemiskinan Adakan Rakortas

Selain pemeriksaan, petugas juga memberikan edukasi kepada peternak terkait pentingnya penerapan biosekuriti secara ketat di kandang. Langkah tersebut dinilai menjadi upaya utama pengendalian ASF karena hingga kini vaksin penyakit tersebut belum tersedia secara komersial.

Peternak diminta rutin membersihkan kandang, melakukan penyemprotan disinfektan, membatasi keluar masuk orang ke area peternakan, hingga memastikan pakan yang diberikan aman dan tidak berasal dari limbah makanan berisiko membawa virus.

Peternak juga diimbau mengisolasi babi yang baru dibeli sebelum dicampur dengan ternak lain guna mencegah potensi penularan penyakit.

Kadistan Pangan Bali, Wayan Sunada, mengatakan ASF kini telah menjadi penyakit endemis di Bali sehingga kewaspadaan dan disiplin peternak menjadi faktor penting untuk menekan penyebaran.

“ASF memang sudah menjadi penyakit endemis di Bali, sehingga yang paling penting saat ini adalah meningkatkan kewaspadaan dan disiplin dalam penerapan biosekuriti. Kami mengimbau peternak untuk menjaga sanitasi kandang, membatasi lalu lintas orang dan barang ke kandang, serta segera melapor apabila ada ternak sakit atau mati mendadak,” ujarnya dalam siaran pers, Sabtu (23/5).

Baca juga:  HUT RI, Kodam Gelar Lomba Panjat 72 Pohon Pinang

Menurut Sunada, manusia juga dapat menjadi perantara penyebaran virus ASF dari satu kandang ke kandang lain apabila tidak mematuhi prosedur kebersihan kandang. Karena itu, setiap orang yang masuk ke area peternakan diharapkan menggunakan alas kaki khusus, mencuci tangan, serta memastikan peralatan yang dipakai dalam kondisi bersih dan telah didisinfeksi.

Pemprov Bali bersama pemerintah kabupaten/kota juga terus memperkuat pengawasan lalu lintas ternak, pemeriksaan kesehatan hewan, serta edukasi kepada masyarakat untuk mencegah penyebaran ASF lebih luas.

Baca juga:  Harga Jual Ayam Pedaging Di Tingkat Peternak Turun

Masyarakat pun diminta tidak panik ataupun melakukan panic selling yang justru dapat merugikan peternak. Selain itu, warga diimbau tidak membuang bangkai ternak sembarangan dan segera melapor kepada petugas apabila menemukan kematian ternak yang tidak normal.

Pemerintah menegaskan informasi terkait kasus ASF akan disampaikan berdasarkan data resmi agar tidak menimbulkan persepsi seolah terjadi wabah besar di seluruh Bali. Penanganan bersama dinilai penting karena sektor peternakan babi tidak hanya menopang ekonomi masyarakat Bali, tetapi juga berkaitan erat dengan kebutuhan adat, budaya, dan pariwisata daerah.

Terkait babi mati yang terjadi di wilayah Badung, Tabanan dan Gianyar yang diduga terinfeksi ASF, Sunada mengatakan masih dalam tahap uji laboratorium. “Hasil uji belum keluar,” ungkapnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN