Bangkai babi di Canggu yang mati mendadak diduga akibat virus ASF. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dugaan kemunculan kembali kasus African Swine Fever (ASF) di Bali, khususnya Canggu, Badung, mulai menjadi perhatian kalangan peternak babi. Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI), I Ketut Hari Suyasa, mengaku hingga kini belum menerima laporan resmi terkait kasus ASF dari peternak, namun meminta agar peternak meningkatkan biosekuriti.

Meski demikian, pihaknya memperoleh informasi dugaan kasus kematian babi yang terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Tabanan sejak sekitar tiga bulan lalu. “Secara resmi belum ada laporan. Tetapi informasi memang pernah saya dapat, sudah terjadi sekitar tiga bulan lalu di beberapa wilayah di Tabanan,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pendataan menjadi sulit karena saat ada babi yang mati mendadak, peternak kerap langsung menjual atau mengeluarkan ternak yang terindikasi terdampak sebelum ada pemeriksaan lebih lanjut. “Kalau ada kandang yang sudah terindikasi terdampak, mereka langsung melakukan stepping out. Jadi babinya keburu habis sehingga sangat sulit mencari data,” katanya.

Baca juga:  Sejak Lima Tahun, Denpasar Nihil Kasus Rabies

Hari Suyasa mengatakan, informasi yang diterima selama ini sebagian besar hanya berupa kabar dari masyarakat dan belum pernah dilaporkan secara formal kepada pihak terkait. Ia mengaku sempat menyampaikan dugaan tersebut kepada pemerintah daerah, namun belum terlihat adanya respons serius.

Ia menilai langkah paling penting saat ini adalah memperketat biosekuriti di lingkungan peternakan. Menurutnya, hingga kini biosekuriti masih menjadi cara utama untuk mencegah penyebaran ASF. Sementara untuk vaksi ASF menurutnya belum sepenuhnya mampu menyelesaikan persoalan di lapangan. “Pilihan peternak sebenarnya hanya memperketat biosekuriti, lalu lintas orang, lalu lintas ternak dan barang di kandang. Biasanya kalau peternak sudah beberapa kali panen dan tidak ada masalah, pengawasan mulai kendor,” jelasnya.

Baca juga:  Berpotensi Dilanda Rob, Nelayan dan Warga Pesisir Diimbau Waspada

Ia menyebutkan kasus kematian babi secara sporadis masih ditemukan di sejumlah wilayah di Bali, meskipun tidak sampai menimbulkan wabah besar seperti sebelumnya. Di Tabanan, dugaan penyebaran sempat terjadi secara berantai mulai dari wilayah Penebel, Tunjuk hingga Selabih dan Selemadeg.

Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih aktif melakukan edukasi dan pengawasan hingga tingkat bawah. Sebab, peternak umumnya enggan melapor karena khawatir memicu kepanikan dan menyebabkan harga babi jatuh.

Baca juga:  Nyepi, IRD RSU Negara Tangani Puluhan Pasien

Hari Suyasa juga menyoroti dugaan kasus yang muncul di wilayah Canggu, Kabupaten Badung. Ia meminta pemerintah daerah segera melakukan langkah antisipasi agar penyebaran tidak meluas ke wilayah lain. “Khusus untuk Badung, karena kejadiannya diduga ada di sana, kami berharap dinas terkait segera melakukan edukasi masyarakat dan peternak agar penyebaran tidak meluas,” katanya.

Selain berdampak pada peternak, ia mengingatkan ancaman ASF juga dapat memengaruhi ketersediaan babi menjelang hari raya. Apalagi saat ini permintaan babi dari luar Bali juga cukup tinggi. “Kalau terjadi pengurangan populasi akibat wabah, nanti saat hari raya bisa terjadi kekurangan pasokan dan harga babi menjadi mahal,” imbuhnya. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN