
GIANYAR, BALIPOST.com – Menyikapi berbagai persoalan krusial yang tengah melanda Bali saat ini, sebuah buku kumpulan esai kritis resmi diluncurkan. Buku berjudul “Tri Hita Bencana: Ekonomi Politik Keserakahan Manusia Bali Kontemporer” karya Akademisi Universitas Warmadewa dan penulis, I Ngurah Suryawan, hadir sebagai ruang refleksi mendalam atas dinamika perubahan sosial-ekonomi di Pulau Dewata.
Ngurah Suryawan ketika diminta konfirmasi saat launching buku tersebut, Jumat (22/5), mengatakan, buku karyanya menyoroti realitas kontemporer Bali yang dinilai sedang tidak baik-baik saja. Berbagai isu hangat mulai dari persoalan lingkungan, banjir, kemacetan lalu lintas, tata kelola dana bantuan sosial (bansos), hingga kualitas kepemimpinan politik lokal menjadi menu utama dalam pemikiran yang dituangkan Suryawan.
Ngurah Suryawan mengungkapkan bahwa esai-esai dalam buku ini ditulis untuk mengajak publik dan warga Bali agar melihat berbagai persoalan daerah secara lebih kritis. Ia berharap masyarakat tidak menelan mentah-mentah narasi atau klaim sepihak yang sering digaungkan oleh pejabat publik maupun para investor.
”Kita harus melihat kembali bagaimana kehidupan kita di Bali berubah sangat cepat. Bagaimana sebenarnya posisi kita sebagai manusia Bali, posisi alam Bali, dan yang paling penting adalah bagaimana kita harus merespons atau menanggapi perubahan-perubahan yang ada,” ujar Suryawan.
Selama ini, menurut Suryawan, arah pandang masyarakat dalam membedah persoalan Bali selalu ditarik ke ranah kebudayaan semata seperti narasi budaya Bali yang lestari, indah, dan ajeg. Padahal, ada aspek yang jauh lebih mendasar yang kerap terlupakan, yaitu persoalan ekonomi-politik.
Melalui pendekatan ekonomi-politik ini, buku “Tri Hita Bencana” membedah bagaimana derasnya arus investasi masuk ke Bali, realitas menyusutnya lahan-lahan lokal, hingga posisi masyarakat Bali yang kerap kali hanya menjadi pekerja di dalam lingkaran arus kapital besar.
Judul “Tri Hita Bencana” sendiri merupakan sebuah otokritik dan plesetan dari konsep luhur filosofi hidup masyarakat Bali, Tri Hita Karana (tiga hubungan harmonis penyebab kebahagiaan). Suryawan mengajak warga Bali untuk berefleksi secara jujur apakah tiga hubungan harmonis yakni hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan alam lingkungan saat ini masih berjalan baik atau justru sudah mengalami kerusakan parah akibat keserakahan.
Ia berharap buku ini mampu menggugah kesadaran masyarakat untuk melihat permasalahan Bali secara lebih komprehensif. Di akhir pemaparannya, Suryawan menaruh harapan besar pada generasi muda Bali. Ia mendorong agar anak-anak muda tidak hanya aktif dan vokal di media sosial, tetapi juga mulai memperkuat diri dengan tradisi membaca dan berani menuangkan gagasan mereka dalam bentuk tulisan.
”Harapan saya, anak muda Bali berani untuk menulis, memperkuat diri dengan membaca untuk menanggapi kebijakan-kebijakan atau situasi yang ada di Bali. Ini semacam gugahan agar kita di masyarakat Bali lebih kritis, vokal, dan berani mempergunakan hak warga negara kita untuk berperan aktif. Jangan mudah dibodohi dan jangan mudah dibeli,” tegasnya menutup peluncuran buku. (Wirnaya/balipost)










