
DENPASAR, BALIPOST.com – Ir. I Made Widnyana Sudibya meninggal pada Senin (18/5) di RSUP Prof. Ngoerah. Berpulangnya Widnyana yang akrab disapa Pak Wid ini meninggalkan duka mendapat bagi dunia seni, budaya, dan fotografi di Bali.
Sosok yang dikenal sebagai budayawan senior itu bukan hanya pemerhati tradisi, tetapi juga seorang insinyur dan fotografer yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk menjaga identitas budaya Bali di tengah derasnya arus modernisasi.
Widnyana Sudibya dikenal sebagai pribadi multitalenta yang mampu memadukan pemikiran rasional dengan kecintaan mendalam terhadap seni dan tradisi. Latar belakangnya sebagai seorang insinyur membentuk karakter yang sistematis dan visioner, sementara jiwa seninya membuat ia begitu dekat dengan kehidupan budaya masyarakat Bali.
Perpaduan antara logika, estetika, dan nilai budaya menjadikan Pak Wid sebagai sosok yang dihormati di berbagai kalangan, baik seniman, akademisi, fotografer, maupun pemerhati adat dan budaya Bali.
Semasa hidupnya, almarhum juga tercatat sebagai salah satu pendiri Perhimpunan Fotografer Bali (PFB). Kiprahnya di dunia fotografi bukan sekadar hobi atau profesi, melainkan bagian dari pengabdian untuk mendokumentasikan perjalanan budaya Bali.
Ia dikenal aktif turun langsung ke lapangan untuk mengabadikan berbagai pertunjukan seni, upacara adat, ritual keagamaan, hingga dinamika kehidupan masyarakat Bali. Kamera yang selalu menemaninya menjadi saksi bisu perjalanan tradisi Bali yang terus hidup lintas generasi.
Bagi Widnyana, fotografi memiliki makna lebih dari sekadar menangkap gambar. Fotografi adalah media untuk merekam nilai, filosofi, dan roh kebudayaan Bali agar tetap dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Lewat karya-karyanya, ia berusaha menunjukkan bahwa Bali tidak hanya kaya akan keindahan visual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan nilai kemanusiaan yang tinggi.
Sebagai budayawan, Widnyana juga aktif menyuarakan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian tradisi. Ia meyakini bahwa kemajuan zaman tidak boleh menghilangkan akar budaya yang menjadi identitas masyarakat Bali.
Pemikirannya banyak dituangkan melalui tulisan, diskusi budaya, hingga keterlibatannya dalam berbagai forum seni dan adat. Tidak sedikit generasi muda yang menjadikannya sebagai tempat belajar dan berdiskusi, terutama terkait filosofi budaya dan pentingnya menjaga warisan leluhur Bali.
Kedekatannya dengan dunia seni membuat Widnyana dihormati lintas generasi. Banyak seniman muda mengenangnya sebagai sosok sederhana, rendah hati, dan penuh dedikasi.
Ia dikenal tidak pernah lelah memberikan motivasi agar generasi muda Bali tetap mencintai budaya dan tradisinya sendiri. Selain aktif di bidang budaya dan fotografi, Widnyana juga kerap terlibat dalam berbagai festival seni dan kegiatan dokumentasi kebudayaan di Bali.
Kehadirannya selalu membawa sudut pandang mendalam mengenai pentingnya menjaga jati diri budaya Bali di tengah perubahan zaman. Kepergian Widnyana menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Bali.
Namun jejak pengabdiannya sebagai insinyur, fotografer, dan budayawan diyakini akan terus hidup melalui karya, pemikiran, dan semangat pelestarian budaya yang telah ia wariskan.
Jenazah almarhum disemayamkan di Rumah Duka RSAD Denpasar, Jl. Sudirman, Denpasar hingga 24 Mei mendatang. Sementara upacara pengabenan lan memukur akan dilaksanakan pada, Senin (25/5) di krematorium Punduk Dawa, Klungkung. (Suka Adnyana/balipost)










