
BANGLI, BALIPOST.com – Di tengah hawa sejuk pegunungan Kintamani, tepuk tangan ribuan siswa pecah ketika Gubernur Bali Wayan Koster melangkah memasuki halaman SMKN 3 Kintamani, Senin (11/5). Perayaan ulang tahun ke-17 sekolah vokasi di Desa Dausa itu mendadak berubah menjadi ruang refleksi tentang perjuangan hidup, pendidikan, dan harapan anak-anak desa Bali.
Tidak ada jarak yang terasa antara seorang gubernur dengan para siswa yang duduk berjejer di bawah tenda sederhana. Di hadapan mereka, Wayan Koster tidak hanya berbicara sebagai kepala daerah, tetapi sebagai seorang anak desa yang pernah hidup dalam keterbatasan.
Dengan suara tenang, ia mulai membuka lembaran masa kecilnya. Sejak kelas 4 SD, ia sudah bekerja membantu orangtua.
Pekerjaan apa pun dijalani, seperti meburuh nyangkul, membajak sawah, mengangkut bata merah, hingga membawa material bangunan dengan berjalan kaki sejauh tiga kilometer. Upah hasil kerja itu tak pernah dinikmati sendiri.
“Semua langsung saya serahkan ke ibu untuk biaya sekolah,” ujarnya.
Kisah itu membuat suasana mendadak hening. Banyak siswa tampak terpaku mendengar cerita tentang kehidupan sederhana keluarga Gubernur Koster yang sehari-harinya hanya makan ubi, talas, dan singkong.
Namun dari kerasnya hidup di desa, justru lahir mental disiplin dan daya juang yang kemudian membawanya menembus salah satu kampus terbaik di Indonesia, Institut Teknologi Bandung.
Perjalanan menuju Bandung bukan perkara mudah. Keluarganya harus menjual ayam, anak sapi, dan mengumpulkan bantuan dari kerabat agar ia bisa berangkat kuliah. Di kota besar itu, Koster bertahan hidup dengan mengajar les privat matematika sambil kuliah.
“Kalau hidup susah jangan menyerah. Saya bisa sampai di titik ini karena kerja keras, disiplin, dan ditolong banyak orang baik,” motivasinya, disambut tepuk tangan panjang para siswa.
Di balik kisah perjuangannya, tersimpan alasan mengapa pendidikan selalu menjadi prioritas dalam kebijakannya. Gubernur Koster mengaku tidak ingin ada anak Bali yang putus sekolah hanya karena persoalan biaya seperti yang hampir dialaminya dahulu.
Pengalaman hidup itu pula yang mendorongnya aktif memperjuangkan berbagai kebijakan pendidikan ketika menjadi anggota DPR RI. Ia menyebut keterlibatannya dalam perjuangan program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), bantuan siswa miskin, hingga regulasi kesejahteraan guru yang melahirkan tunjangan profesi guru.
“Guru-guru sekarang yang mendapat tunjangan profesi itu lahir dari perjuangan panjang,” ungkapnya.
Bagi Gubernur Koster, sekolah bukan sekadar bangunan, melainkan jalan untuk memutus rantai kemiskinan. Karena itu, ia terus mendorong pemerataan akses pendidikan di Bali, termasuk menghadirkan minimal satu SMA dan satu SMK di setiap kecamatan.
Di hadapan hampir 900 siswa SMKN 3 Kintamani, ia juga menanamkan keyakinan bahwa anak desa tidak boleh minder. Terlebih, sekolah vokasi kini memiliki peluang besar di dunia kerja internasional.
Ia menilai jurusan perhotelan dan restoran yang berkembang di sekolah tersebut sangat relevan dengan posisi Kintamani sebagai destinasi wisata dunia. Menurutnya, lulusan SMK Bali kini banyak bekerja di Jepang, Korea Selatan, Eropa, hingga kapal pesiar internasional.
“Anak-anak Bali di mana pun bekerja selalu dinilai baik. Mereka disiplin, jujur, dan mau bekerja keras,” katanya.
Pesan itu terasa begitu dekat dengan realitas siswa-siswa di Kintamani yang tumbuh di kawasan wisata global, tetapi tetap membawa identitas desa dan budaya Bali yang kuat. Karena itu, Koster meminta generasi muda memperkuat keterampilan dan kemampuan bahasa asing seperti Bahasa Inggris, Jepang, Korea, hingga Mandarin.
“Kekayaan yang tidak pernah habis adalah ilmu pengetahuan,” tegasnya.
Suasana yang semula formal kemudian mencair ketika Gubernur Koster memanggil siswa bernama depan Komang dan Ketut maju ke depan panggung. Tawa para siswa pecah. Namun di balik candaan itu, tersimpan pesan penting tentang identitas budaya Bali dan keberlangsungan sistem penamaan tradisional berdasarkan urutan kelahiran.
Sebagai bentuk perhatian pribadi, Gubernur Koster menyerahkan santunan kepada siswa dengan urutan kelahiran ketiga dan keempat. Ia meminta bantuan itu dipakai membeli buku pelajaran.
“Iya,” jawab para siswa serempak, memancing tepuk tangan dan senyum hangat seluruh hadirin.
Momen sederhana itu menjadi salah satu bagian paling emosional dalam perayaan HUT sekolah tersebut. Tidak ada sekat protokoler yang kaku. Yang terlihat justru hubungan hangat antara seorang pemimpin dengan generasi muda yang sedang menata masa depan mereka.
Sementara itu, Kepala SMKN 3 Kintamani, I Komang Widiada, mengingatkan bahwa berdirinya sekolah tersebut lahir dari gotong royong masyarakat dan dukungan banyak pihak yang peduli terhadap pendidikan di Kintamani, termasuk Wayan Koster saat masih menjadi anggota legislatif.
“Sejarah berdirinya SMKN 3 Kintamani adalah karena ada orang-orang baik,” ujarnya.
Dari awal berdiri dengan hanya sekitar 119 siswa, kini sekolah itu berkembang menjadi hampir 900 siswa dengan lulusan yang bekerja di luar negeri maupun menjadi wirausaha mandiri.
Di lereng Kintamani situ, perayaan ulang tahun sekolah bukan sekadar seremoni tahunan. Ia berubah menjadi pengingat bahwa pendidikan dapat mengubah nasib siapa saja — bahkan seorang anak desa yang pernah berjalan kaki mengangkut bata merah, hingga akhirnya memimpin Bali. (kmb/balipost)









