
DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 2,08 persen pada April 2026. Sementara itu, inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) tercatat sangat rendah, yakni 0,01 persen, dan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) sebesar 0,92 persen.
Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Senin (4/5) menyampaikan, inflasi April cenderung lebih rendah dibandingkan Maret yang secara historis lebih tinggi. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga mulai mereda meski masih dibayangi dinamika global dan kenaikan harga energi domestik.
Secara bulanan, kelompok transportasi menjadi pendorong utama inflasi. Tarif angkutan udara melonjak hingga 32,74 persen dengan andil 0,08 persen terhadap inflasi. Kenaikan ini dipicu oleh naiknya harga avtur, yang turut berdampak pada mahalnya tiket pesawat.
Selain itu berdasarkan catatan peristiwa, penyesuaian harga BBM non-subsidi seperti Pertamax, solar, dan Dexlite, serta kenaikan harga elpiji dan bahan baku plastik, turut memberi tekanan pada biaya distribusi dan harga barang di tingkat konsumen.
Di sisi lain, inflasi tertahan oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang justru mencatat andil negatif secara bulanan sebesar minus 0,20 persen. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai rawit yang sempat melonjak sejak November 2025, menjadi faktor utama penahan inflasi April.
Sejumlah komoditas lain yang mendorong inflasi bulanan antara lain beras dengan inflasi 1,16 persen dan minyak goreng sebesar 3,19 persen. Kenaikan juga terjadi pada canang sari, nasi dengan lauk, tomat, bawang merah, dan jeruk.
Sementara itu, komoditas yang menahan laju inflasi antara lain cabai rawit, daging ayam ras, sawi hijau, buncis, emas perhiasan, tarif angkutan antarkota, tongkol diawetkan, daging babi, dan bawang putih.
Secara tahunan, tekanan inflasi masih didominasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil terbesar mencapai 0,65 persen. Selain itu, kelompok transportasi menyumbang 0,28 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga sebesar 0,30 persen.
Komoditas utama penyumbang inflasi tahunan meliputi daging ayam ras, emas perhiasan, beras, sewa rumah, tarif angkutan udara, biaya pemeliharaan kendaraan, hingga biaya pendidikan seperti SMA dan bimbingan belajar. Rokok (SPM, SKM, SKT), minyak goreng, tarif air minum, serta makanan jadi seperti nasi dengan lauk juga turut memberikan andil.
Sebaliknya, sejumlah komoditas mencatat deflasi dan membantu menahan inflasi, antara lain daging babi, bawang putih, bawang merah, cabai rawit, bensin, bayam, cabai merah, pisang, serta buku tulis bergaris.
BPS menilai, meski tekanan dari sektor energi dan transportasi cukup kuat, inflasi Bali pada April 2026 tetap tergolong rendah. Stabilitas ini ditopang oleh terkendalinya harga pangan, sehingga mampu meredam dampak kenaikan biaya energi terhadap inflasi secara keseluruhan. (Suardika/balipost)









