
BANGLI, BALIPOST.com – Lonjakan harga material bangunan, sangat dirasakan para pelaku jasa konstruksi di Kabupaten Bangli. Kenaikan harga material ini membuat para kontraktor ekstra hati-hati dalam mengajukan penawaran tender proyek pemerintah.
Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Bangli, Wayan Arianta Dwipayana, Senin (4/5) mengungkapkan bahwa kenaikan harga yang paling signifikan terjadi pada material galian C seperti pasir. Harga pasir per truk yang sebelumnya berada di kisaran Rp2,3 juta, kini melonjak hingga Rp2,8 juta. Selain itu, material berbahan plastik dan cat juga mengalami kenaikan drastis.
Kondisi ini memaksa para kontraktor mengubah strategi penawaran tender. Kontraktor kini tidak lagi berani melakukan penawaran harga jauh di bawah pagu anggaran. “Misalnya dulu kalau Pagu Rp1 miliar, kita berani tawar di angka Rp750 juta sampai Rp800 juta. Sekarang dengan kenaikan material, kita tidak berani lagi banyak turun,” jelasnya.
Terkait usulan penyesuaian harga ke Pemerintah Daerah, Arianta mengaku pihaknya di Gapensi Bangli belum ada menjalin komunikasi resmi dengan Pemda Bangli. Pihaknya masih menunggu instruksi dari Gapensi Bali.
Melonjaknya harga material bangunan dibenarkan salah seorang pemilik toko bangunan di Bangli, I Wayan Suarembawa. Dia mengatakan kenaikan harga material bangunan dari tingkat distributor terjadi sejak awal April. “Semua harga material bahan bangunan seperti pasir, batu, semen, besi, kayu, triplek, cat, atap seng, atap genteng, pipa, kabel naik dari 5 – 12 persen,” terangnya.
Kenaikan tertinggi menyasar produk berbahan baku karet dan plastik, seperti pipa, dan tangki air yang naik 12 hingga 15 persen. “Sementara besi, semen, dan genteng naik di kisaran 5 persen,” ujarnya.
Kenaikan harga material saat ini menurutnya signifikan dan terjadi hampir setiap minggu. Contohnya tangki air awalnya naik 7 persen, sekarang sudah mencapai 15 persen. “Harga cat juga sudah mengalami dua kali kenaikan,” ungkap Suarembawa.
Dikatakan bahwa, informasi dari distributor menyebutkan kenaikan dipicu oleh naiknya harga bahan baku. Dampak kenaikan harga ini, kata dia banyak kontraktor mulai menunda pelaksanaan pembangunan, meski minat belanja masyarakat umum belum menunjukkan penurunan signifikan. “Kontraktor yang galau. Yang mau membangun sih tetap ingin jalan,” pungkasnya. (Dayu Swasrina/balipost)










