
DENPASAR, BALIPOST.com – Pengurus Kamar dan Industri (KADIN) yang terdiri dari Dewan Kehormatan, Dewan Penasihat, Dewan Pertimbangan, dan Dewan Pengurus lainnya Masa Bakti 2025-2030 dikukuhkan dan dilantik pada Sabtu (25/4) di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar.
Dalam pelantikan yang dilakukan langsung oleh Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie tersebut, pelaku usaha di Bali didorong untuk bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri.
Dalam sambutannya, Anindya Bakrie mengatakan pengusaha daerah Bali mesti menjadi tuan rumah. Ia juga akan mendukung program Golden Visa, namun dana yang masuk benar-benar harus melibatkan pengusaha-pengusaha Bali. “Karena hanya dengan seperti itu, perekonomian akan tetap berlangsung. Tradisi Bali tetap dijaga dan tetap autentik,” katanya.
Ia mengungkapkan, pada 2025 jumlah turis mancanegara yang datang ke Bali mencapai 7 juta lebih dan jumlah PDB-nya mencapai Rp170 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. “Nah, ini saya lihat benar-benar suatu prestasi yang sangat dibutuhkan,” kata Anindya.
Tingginya nilai tukar dolar terhadap rupiah yang saat ini telah mengapai Rp17.252 per dolar AS bukan saja menjadi tantangan bagi Bali. Kondisi ini bisa menjadi peluang makin banyaknya wisatawan mancanegara yang datang ke Bali.
Kadin sendiri menjadi mitra strategis pemerintah untuk menaikkan dunia usaha sesuai Undang-undang Nomor 1 Tahun 1987. Anindya mengungkapkan, Kadin mendapatkan kesempatan untuk menaungi seluruh dunia usaha dari asosiasi yang banyak hadir di Bali.
Ia juga menyoroti dampak konflik Israel-Amerika Serikat dan Iran dimana sebelumnya sudah terdapat konflik di Ukraina dengan Rusia. “Nah, ini benar-benar dampaknya sangat serius dan akan lebih serius dari hanya sejak perang dan satu dua bulan. Kenapa, karena satu BBM sudah naik baik buat ritel maupun industri yang artinya biaya produksi akan naik, lalu yang ketiga juga daya beli tentunya juga lagi kurang baik,” imbuhnya.
Menyikapi hal tersebut, Kadin Indonesia bersama Kadin Provinsi Bali memiliki dua pilihan, yakni fokus saja kepada efisiensi bertahan atau tetap bertahan namun cepat-cepat memikirkan terobosan agar ekonomi bisa berkembang kembali. Kadin Indonesia memilih opsi kedua untuk efisiensi pada saat ini, tapi mencari terobosan agar dapat kembali kepada arah pertumbuhan yang baik.
“Saya lihat Bali ini benar-benar bisa menjadi salah satu bukan saja barometer tapi juga pendorong ekonomi nasional. Dan saya juga diskusi dengan Pak Gubernur dan teman-teman Kadin Indonesia dengan pengurus Kadin di sini bahwa ya apa nih yang kita mesti bantu untuk Bali karena membantu Bali adalah membantu nasional,” paparnya.
Kadin Indonesia akan membuat strategic paper untuk pertumbuhan ekonomi Bali mencapai misalnya 8 persen. Terlebih, Gubernur Bali telah menyampaikan salah satunya yang menjadi fokus saat ini adalah infrastruktur juga sampah-sampah.
“Mungkin nanti Kadin Indonesia bisa menghitung berapa kira-kira besarnya untuk nya provinsi Bali berapa yang dibutuhkan untuk infrastruktur di mana saja sehingga kita bisa membantu sedikit banyak menyampaikan kepada pemerintah pusat bahwa return on investment-nya bagus atau payback nya bisa dihitung tidak terlalu lama dan efeknya kepada ekonomi ini juga besar,” tandasnya.
Gubernur Menitip Aspirasi
Sementara itu, Gubernur Bali, Wayan Koster mengucapkan ungkapan terima kasih kepada Ketua Umum Kadin yang sudah hadir ke Bali. Pihaknya menitip aspirasi, karena bagaimanapun Kadin punya koneksi dengan pemerintahan di pusat maupun juga di DPR.
“Sehingga upaya kami untuk mempercepat pembangunan infrastruktur itu bisa mendapat dukungan lebih kuat,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa pertumbuhan jumlah kendaraan di Bali tidak sebanding dengan pertumbuhan infrastruktur yang mendukungnya. Hal ini menjadi faktor utama terjadinya kemacetan di beberapa wilayah di Bali.
“Fiskal Bali tidak mampu untuk menyelesaikan masalah ini. Seharusnya hal ini bisa di tutup dari pusat mengingat kontribusi Bali terhadap devisa Pariwisata di Indonesia sangat besar,” ungkap Koster.
Ia mendorong Pemerintah Pusat untuk memberikan perhatian khusus terhadap Bali khususnya dalam hal pengembangan infrastruktur. Menurutnya hal tersebut sangat krusial terhadap citra Indonesia di mata dunia Internasional.
“Jadi kalau dihitung jumlah kunjungan wisatawan asing yang datang ke Bali 7,05 juta dikalinya dengan rata-rata belanja per sekali kunjungan sebesar 1.522 dollar jumlah uang yang berputar di Bali mencapai 176 T rupiah,” katanya.
Angka tersebut mencakup 55% dari devisa yang di hasilkan Indonesia dari sektor Pariwisata. Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa perkembangan pariwisata ini tidak hanya berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian Bali namun juga menghadirkan berbagai tantangan seperti kemacetan dan sampah.
“Seluruh wilayah Bali merupakan objek pariwisata. Hanya saja karena konektivitasnya kurang bagus. Sehingga ke Jembrana, ke Buleleng dan Karangasem sulit dan lama. Hal tersebut menjadi faktor utama ketidakseimbangan pembangunan antarwilayah di Bali,” ungkapnya. (Rahadi/balipost)










