Komunitas Ruang Baca Tabanan saat hadir dalam kegiatan literasi di gedung Ketut Marya.(BP/bit)

SINGASANA, BALIPOST.com – Menurunnya minat baca di kalangan anak-anak dan remaja di Kabupaten Tabanan menjadi perhatian serius. Bahkan, masih ditemukan anak usia sekolah dasar yang belum lancar membaca. Kondisi ini mendorong lahirnya Komunitas Ruang Baca Tabanan yang hadir dengan pola jemput bola melalui lapak baca gratis setiap akhir pekan di ruang publik.

Lapak baca yang rutin digelar di Lapangan Alit Saputra, Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan, menjadi salah satu upaya membangkitkan kembali budaya literasi sejak usia dini. Sasaran utamanya adalah anak-anak agar terbiasa membaca.

Salah satu relawan Ruang Baca Tabanan, Gede Erlangga Chassa Indra, Rabu (22/4) mengatakan, kegiatan tersebut merupakan langkah nyata untuk menanamkan kebiasaan membaca sejak dini.

Baca juga:  Puluhan Rumah di Terunyan Terendam Air Danau

“Setiap akhir pekan kami membuka lapak baca gratis di Lapangan Alit Saputra. Fokus utama kami anak-anak, supaya mereka terbiasa membaca sejak kecil,” ujarnya.

Menurutnya, komunitas ini mulai aktif kembali pada 2026 sebagai kelanjutan dari Perpustakaan Jalanan yang sempat berjalan sejak 2017. Aktivitas tersebut sempat vakum pada 2022 akibat kesibukan anggota, sebelum akhirnya dihidupkan kembali dengan konsep dan nama baru.

Saat ini, Ruang Baca Tabanan telah memiliki sekitar 300 koleksi buku hasil donasi, mulai dari komik, buku cerita bergambar, novel, majalah hingga buku filsafat. Buku cerita bergambar disebut paling diminati anak-anak.

Baca juga:  3 Pesawat Carteran akan Jemput WN Jerman di Bali

“Anak-anak paling banyak tertarik pada buku cerita bergambar. Dari sana kami mencoba membangun kebiasaan membaca secara bertahap,” jelasnya.

Tak hanya menyasar anak-anak, komunitas ini juga mulai merancang kegiatan literasi untuk kalangan remaja dan dewasa, termasuk membuka lapak baca di sekolah maupun kafe saat ada agenda tertentu. “Nanti kami juga akan masuk ke sekolah-sekolah,” imbuhnya.

Salah seorang pelajar SMKN 3 Tabanan, Ni Putu Ema Prameswari Artayasa, mengaku masih memiliki minat tinggi terhadap buku fisik, khususnya novel. “Kalau ada waktu saya juga ke toko buku untuk beli novel. Membaca buku fisik masih terasa lebih nyaman,” ujarnya.

Baca juga:  Berburu Oleh-oleh saat Liburan di Bali, 4 Pasar Seni Ini Bisa Dikunjungi

Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, menyoroti tantangan literasi di era digital.

Menurutnya, penggunaan handphone yang tidak terkontrol membuat anak-anak semakin jauh dari kebiasaan membaca.

Ia menegaskan, pentingnya peran keluarga dalam mendampingi anak saat menggunakan smartphone, sekaligus menumbuhkan budaya membaca dari rumah. “Kita tidak bisa menolak era digital, tetapi anak-anak harus didampingi. Informasi baik dan buruk ada di dalamnya,” tegasnya.

Ia mengajak keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk kembali menghidupkan perpustakaan dan membiasakan anak membaca buku sederhana namun bermakna. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN