Suasana dialog terbuka BEM Unud dengan Gubernur Bali, Wayan Koster dan Ketua DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya di wantilan Gedung DPRD Bali, Rabu (22/4). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) Provinsi Bali, merespons aspirasi ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Udayana (BEM Unud) dalam aksi di Kantor DPRD Bali, Rabu (22/4). Dalam dialog yang berlangsung di Wantilan DPRD Bali, Kepala Dinas KLH Bali, I Made Dwi Arbani, menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam penanganan sampah di Bali.

Menurutnya, Bali saat ini tengah berada dalam masa transisi dari pola lama “kumpul, angkut, buang” menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan dan berbasis pengolahan di sumber.

“Ini adalah masa kita beralih dari pola kumpul, angkut, buang menjadi bagaimana kita mengelola sampah itu sendiri,” ujarnya di hadapan mahasiswa.

Baca juga:  Terlibat Pembunuhan, Dua Warga India Dituntut 15 Tahun

Arbani juga membuka ruang kolaborasi dengan kalangan akademisi. Ia mempersilakan mahasiswa untuk melakukan riset langsung terkait pengelolaan sampah, termasuk dampak tempat pemrosesan akhir (TPA) serta inovasi pengolahan berbasis lingkungan. Pihaknya, kata dia, siap memfasilitasi akses data dan diskusi ilmiah.

“Kami pemerintah membuka diri. Silakan adik-adik datang, lakukan riset bagaimana dampak TPA, bagaimana tata kelola yang baik. Kantor kami terbuka untuk itu,” tegasnya.

Arbani mengungkapkan bahwa sekitar 65 persen komposisi sampah di Bali merupakan sampah organik. Dari jumlah tersebut, sekitar 17 persen merupakan limbah makanan (food waste) yang dinilai memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pupuk organik maupun dimanfaatkan untuk sektor pertanian dan energi.

Baca juga:  Panglima TNI Hadiri "Kick Off The Rising Tide" di Puri Agung Blahbatuh

“Ini peluang besar kalau kita kelola dengan baik. Sampah organik bisa menjadi buhuk atau pupuk organik yang bermanfaat,” jelasnya.

Selain aspek teknis, Arbani juga mendorong mahasiswa untuk mengambil peran aktif sebagai agen perubahan dalam pengelolaan sampah. Ia mengajak gerakan dimulai dari lingkungan kampus hingga ke rumah tangga melalui pemilahan dan pengurangan sampah.

“Ayo mulai dari kampus, lalu ke rumah masing-masing. Kita pilah sampah, kita lakukan bersama. Reduce, reuse, recycle harus benar-benar dijalankan,” serunya.

Baca juga:  Warga Muncan Tukar Sampah dengan Beras

Ia menegaskan bahwa upaya penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda.

Diberitakan, ratusan mahasiswa Unud melakukan aksi unjuk rasa sebagai bentuk protes atas krisis sampah yang dinilai semakin memburuk pascapenutupan TPA Suwung sejak 1 April 2026. Mahasiswa menilai kebijakan tersebut belum diiringi kesiapan sistem pengelolaan pengganti, sehingga menyebabkan penumpukan sampah di berbagai wilayah di Bali. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN