Gong mabarung Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan bersama mahasiswa University of Waterloo, Kanada.(BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Sekaa Gong Eka Wakya, Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng mabarung bersama mahasiswa dari Conrad Grebel University College – University of Waterloo pada, Rabu (20/5) malam. Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran budaya sekaligus penguatan kesenian antara Kabupaten Buleleng dan Kanada.

Kelian Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan, I Ketut Sunada, mengatakan kolaborasi ini sejatinya bukan hal yang baru, melainkan telah terjalin sejak beberapa tahun sebelumnya. Menurutnya, kerja sama tersebut merupakan bentuk apresiasi sekaligus pertukaran pengetahuan seni gamelan Bali, khususnya gong kebyar, dengan mahasiswa internasional.

Sunada menambahkan, kolaborasi ini tidak hanya sebatas pada pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang berkelanjutan. Para mahasiswa Kanada diketahui mempelajari gamelan Bali melalui metode daring maupun latihan langsung di lapangan, termasuk mempelajari tabuh-tabuh lelambatan dan lelonggoran. Hasil pembelajaran tersebut kemudian dipentaskan bersama Sekaa Gong Eka Wakya dalam satu panggung kolaborasi.

Baca juga:  Hari Ini, Kolaborasi SMPN 3 Denpasar dan SMAN 3 Denpasar di Menyongsong Matahari Bali 2018

“Mereka awalnya belajar secara daring, kemudian datang langsung untuk melihat dan berlatih bersama kami. Bahkan mereka juga melakukan penelitian terkait gamelan Bali. Ini tentu menjadi kebanggaan bagi kami karena kesenian kami bisa dikenal lebih luas,” ujarnya.

Salah satu mahasiswa, Maisie Sum, dari jurusan Music Culture Music Culture, mengungkapkan antusiasmenya dapat berkolaborasi langsung dengan seniman Bali. Ia menilai pengalaman belajar gamelan di Bali merupakan kesempatan berharga yang tidak dapat diperoleh di tempat lain.

“Kami memiliki ensambel gamelan di Universitas Waterloo sejak 2013. Kami sangat senang bisa datang langsung ke Bali dan belajar bersama. Ini pengalaman yang sangat istimewa bagi kami,” ungkapnya.

Baca juga:  Sejumlah Elemen Tolak Pembangunan Terminal LNG Bali di Sidakarya

Dalam pertunjukan tersebut, mahasiswa Kanada bersama Sekaa Gong Eka Wakya membawakan sejumlah tabuh, di antaranya tabuh lelambatan tradisional Bali, lelonggoran, serta komposisi Padudasa. Menurut Maisie, setiap karya memiliki tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran, terutama dalam memahami ritme dan karakteristik musik Bali.

Ia juga menilai proses belajar gamelan membutuhkan waktu yang cukup panjang, meski dilakukan dalam sistem perkuliahan yang terbatas. “Kami biasanya hanya memiliki 12 minggu dalam satu term dengan pertemuan sekitar tiga jam. Itu menjadi tantangan tersendiri jika dibandingkan dengan proses belajar di Bali,” katanya.

Baca juga:  Sasar Wisatawan Perempuan Jambret Diringkus Polisi

Sementara itu, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng, I Nyoman Wisandika, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kolaborasi tersebut. Menurutnya, kegiatan ini merupakan wujud nyata pelestarian seni tradisi sekaligus sarana promosi budaya Buleleng ke dunia internasional.

Ia juga mendorong agar kegiatan serupa ke depan dapat digelar di ruang pertunjukan yang lebih representatif seperti Gedung Sasana Budaya, mengingat antusiasme peserta dan keterbatasan ruang di tingkat banjar.

“Ini adalah malam yang sangat spesial, khususnya bagi Banjar Paketan. Kolaborasi dengan universitas dari Kanada ini merupakan bentuk kerja sama budaya yang sangat positif. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berkembang dan berkesinambungan,” ujar Wisandika.(Yuda/balipost)

 

BAGIKAN