Dua tokoh politik di Bali, Wayan Koster dan Made Muliawan Arya kembali terlihat dalam satu meja pertemuan santai di sebuah tempat makan di Denpasar, Minggu (19/4). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dua tokoh politik di Bali, Wayan Koster dan Made Muliawan Arya atau yang akrab disapa De Gadjah, kembali terlihat dalam satu meja pertemuan santai di sebuah tempat makan di Denpasar, Minggu (19/4). Pertemuan ini diposting oleh De Gadjah di akun media sosial pribadinya.

Pertemuan keduanya ini di tengah isu krusial yang dihadapi Bali, yakni persoalan pengelolaan sampah. Bahkan terkait penanganan sampah, De Gadjah sempat mengomentari karena adanya permintaan Presiden Prabowo Subianto untuk turun tangan.

“Dari meja makan, lahir banyak pemikiran. Diskusi santai, tujuan tetap sama: untuk Bali,” tulis De Gadjah dalam unggahannya, mengisyaratkan adanya pembahasan strategis meski dikemas dalam suasana informal.

Saat dikonfirmasi, De Gadjah mengungkapkan bahwa pembahasan berlangsung mengalir dengan suasana serius namun tetap santai. Sejumlah isu strategis dibahas, mulai dari megaproyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) berbasis teknologi Waste to Energy (WtE) hingga berbagai program prioritas pemerintah pusat.

Baca juga:  Terpapar COVID-19, Ajudan Wali Kota Denpasar Meninggal

Menurutnya, proyek PSEL yang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dirancang dengan mengadopsi keberhasilan fasilitas serupa di Benowo, Surabaya. Selain itu, keduanya juga membahas langkah-langkah konkret penanganan sampah sebelum PSEL mulai beroperasi di Kota Denpasar.

“Pertemuan saya dengan Pak Koster kebetulan pas jam makan siang. Kami kadang ngopi, kadang makan, ngobrol santai sambil diskusi. Diskusinya untuk Bali. Salah satunya soal PSEL yang sebentar lagi akan MoU, termasuk solusi penanganan sampah sebelum beroperasi,” ujar De Gadjah, Senin (20/4).

Tak hanya isu lingkungan, pembahasan juga menyentuh program nasional di bidang pendidikan dan ekonomi. Salah satunya adalah pembangunan Sekolah Rakyat (SR) oleh Kementerian Sosial RI di Tulamben, Karangasem, yang direncanakan terealisasi pada 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp255,5 miliar. Program ini ditujukan untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan gratis berbasis asrama bagi masyarakat kurang mampu.

Selain itu, keduanya juga menyinggung percepatan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) sebagai upaya memperkuat ekonomi kerakyatan di tingkat desa dan kelurahan.

Baca juga:  Gubernur Koster Ungkap Bulan Depan Puluhan Ribu Wisman "Serbu" Bali

De Gadjah menilai sosok Koster tetap terbuka terhadap masukan, meskipun memiliki pengalaman panjang di dunia politik, baik di legislatif maupun eksekutif.

“Beliau seorang gubernur dengan jam terbang tinggi, tapi masih meminta masukan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat. Itu saya sangat apresiasi,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa komunikasi dengan Koster tidak hanya terjalin dalam forum tatap muka, tetapi juga berlangsung intens melalui sambungan telepon maupun pesan singkat. Menurutnya, komunikasi langsung penting untuk menghindari kesalahpahaman di ruang publik.

Dalam pertemuan tersebut, De Gadjah turut menyebut kehadiran Made Bayu Adisastra yang disebutnya sebagai sosok dekat. Selain aktivitas politik, De Gadjah juga diketahui aktif memimpin sejumlah organisasi, termasuk di bidang olahraga tinju.

Lebih lanjut, De Gadjah menegaskan bahwa Koster menunjukkan dukungan kuat terhadap program Presiden RI, Prabowo Subianto, khususnya dalam implementasi kebijakan di Bali.

Baca juga:  Ini, Sosok Pengganti Irjen Jayan Danu Jabat Kapolda Bali

“Beliau sangat mendukung program Pak Presiden. Intinya, kami ingin yang terbaik untuk Bali. Ngobrol santai, tapi berisi,” tegasnya.

Seperti diketahui, ini bukan kali pertama kedua tokoh politik tersebut bertemu pasca kontestasi Pemilihan Gubernur Bali 2024. Sebelumnya, Koster dan De Gadjah juga sempat melakukan pertemuan pada 10 Februari 2025 di kediaman De Gadjah, yang kala itu disebut sebagai ajang silaturahmi politik usai dinamika Pilgub.

Tak hanya itu, komunikasi politik keduanya juga sempat terjalin dalam pertemuan pada 27 Desember 2025 di salah satu restoran di Denpasar. Rangkaian pertemuan ini dinilai sejumlah pihak sebagai sinyal terbukanya ruang dialog lintas partai dalam merespons berbagai persoalan strategis daerah.

Di tengah kompleksitas persoalan Bali, terutama krisis sampah yang hingga kini belum menemukan solusi komprehensif, publik berharap komunikasi antar elite politik dapat berujung pada langkah konkret dan kolaboratif demi kepentingan masyarakat luas. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN