Beberapa wisatawan mancanegara (wisman) berjalan sambil melihat barang dagangan di pinggir Jalan Legian, Badung. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Gelombang pembatalan wisatawan Eropa jadi alarm keras bagi Badung. DPRD Badung menilai promosi pariwisata belum bergerak seagresif negara pesaing.

DPRD juga menyoroti kinerja promosi pariwisata yang dinilai belum optimal di tengah tekanan global dan persaingan ketat dengan negara lain. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak langsung pada keberlanjutan sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung pendapatan daerah.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Badung, Wayan Edi Sanjaya, menegaskan strategi promosi harus diperkuat agar Bali, khususnya Badung, tidak kehilangan pasar internasional. Ia mengungkapkan serapan anggaran promosi tahun 2025 masih rendah, hanya sekitar 40 persen.

Menurutnya, kondisi ini berbanding terbalik dengan agresivitas negara pesaing seperti Thailand dan Vietnam yang terus menggencarkan promosi ke pasar global. “Kalau kita tidak melakukan promosi secara aktif seperti mereka, kita akan ditinggalkan. Sementara kontribusi pariwisata terhadap PAD Badung mencapai lebih dari 80 persen,” tegasnya dalam rapat kerja dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Badung beberapa hari lalu.

Baca juga:  Putu Sedana, Mantan Kepsek Smansa dan Trisma Berpulang

Edi yang juga pelaku industri pariwisata di pasar Eropa menyampaikan dampak situasi geopolitik global cukup signifikan. Ia menyebut terjadi pembatalan besar-besaran wisatawan asal Spanyol dan Portugal, bahkan hingga Mei seluruh pemesanan dibatalkan tanpa adanya pengganti. “Booking sampai Mei di-cancel semua dan belum ada booking baru. Ini harus jadi alarm bagi kita,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kebijakan efisiensi yang membatasi kegiatan promosi luar negeri, seperti partisipasi dalam event internasional semisal ITB Berlin, WTM London, hingga FITUR Madrid. Menurutnya, pembatasan tersebut perlu dikaji ulang dengan pendekatan strategis. “Kalau bisa dilobi ke pusat agar promosi ke luar negeri tetap dilakukan. Ini bukan sekadar perjalanan, tapi investasi untuk menjaga pasar,” katanya.

Baca juga:  5 Berita Koran Bali Post Terbit Hari Ini, Jumat 15 Agustus 2025

Selain itu, DPRD mengkritisi fokus promosi yang dinilai terlalu terpusat pada pasar lokal dan Asia. Padahal, pasar utama Badung selama ini berasal dari Eropa dan kawasan lainnya. “Promosi harus diperluas ke pasar Eropa dan Timur Tengah. Jangan hanya satu segmen. Kalau satu pasar terganggu, pasar lain bisa menopang,” imbuhnya.

Pendekatan business to business (B2B) dinilai krusial, termasuk partisipasi aktif dalam event seperti Bali & Beyond Travel Fair (BBTF). DPRD mendorong agar keterlibatan Badung diperkuat, baik dari sisi skala partisipasi maupun kualitas SDM yang ditugaskan.

Tak hanya promosi, DPRD juga meminta peningkatan kualitas desa wisata dan daya tarik wisata (DTW), termasuk kolaborasi dengan asosiasi seperti ASITA dan PHRI untuk memperluas jangkauan promosi.

Baca juga:  Libur Lebaran di Bali, Pelancong Nyaman Bertransaksi dengan QRIS

Menanggapi hal tersebut, Plt Kepala Dinas Pariwisata Badung, Ni Kadek Ari Armaeni, menyatakan pihaknya tetap berupaya mengoptimalkan promosi dengan skema yang ada. Salah satunya melalui pelibatan pelaku ekonomi kreatif, desa wisata, dan DTW dalam berbagai kegiatan promosi.

“Kami siapkan 20 stand yang diberikan gratis untuk ekraf, desa wisata, dan DTW. Selain itu kami juga melaksanakan fam trip dari India sebagai upaya diversifikasi pasar,” jelasnya.

Ia menambahkan, pergeseran pasar mulai terlihat dengan meningkatnya potensi wisatawan dari India sebagai substitusi pasar Timur Tengah yang mengalami penurunan.

Sementara itu, Dinas Pariwisata Badung melaporkan terdapat 52 daya tarik wisata dan 18 desa wisata yang terus dikembangkan. Peningkatan infrastruktur juga dilakukan secara bertahap guna menunjang kualitas destinasi dan daya saing pariwisata Badung di kancah global.(Parwata/balipost)

BAGIKAN