
DENPASAR, BALIPOST.com – Sanur saat ini sangat memerlukan peremajaan mengingat sudah puluhan tahun menjadi destinasi wisata dunia. Peremajaan ini penting dilakukan untuk mempertahankan citra positifnya. Hal tersebut terungkap saat gathering pariwisata yang berlangsung di Sanur, Sabtu (28/3/2026).
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Denpasar Ida Bagus Gede Sidharta Putra memaparkan, pariwisata nasional berawal dari Sanur yang sudah sedemikian lama menjadi favorit pariwisata dunia dan kini telah berumur sudah sangat tua. Dengan itu peremajaan Sanur menjadi hal perlu terus dilakukan. Demikian tema “Rejuvenate Sanur, Sinergi Membangun Pariwisata Denpasar” disebut sangat sesuai dengan pembangunan pariwisata Denpasar saat ini.
“Patut Disadari pariwisata Bali bahkan nasional start-nya di Sanur. Jadi sudah lingsir (tua, red). Untuk itu perlu peremajaan, yang beberapa sudah berjalan. Seperti trotoar rusak sudah mendapatkan perbaikan,” katanya.
Menurutnya Sanur masih mampu mempertahankan citra positifnya. Terutama yang menjadi trending topic di media sosial. Sanur tidak dicecar dengan persoalan macet yang dialami sejumlah daerah pariwisata lainnya yang tengah berkembang, seperti Canggu dan sekitarnya.
Kondisi ini, menurut pria yang akrab disapa Gusde itu, berkat komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar, pengelola destinasi, yakni desa adat, stakeholders, dan masyarakat Sanur.
Sementara itu, Guru Besar Pariwisata Universitas Udayana, Prof. Ir. Anak Agung Putu Agung Suryawan Winarta, M.Sc., PH.D dalam paparannya menyebutkan Sanur menjadi destinasi wisata dunia dengan kunjungan tertingi berasal dari Australia.
Diihat dari data sebelum pandemi COVID-19, khususnya pada 2018, Australia menduduki posisi tertinggi wisatawan ke Sanur. Disusul oleh Belanda dan Jerman. Kemudian setelah COVID-19 pada 2022, Australia masih menduduki posisi tertinggi disusul Jerman dan Prancis. Sementara pada 2025 Australia tetap di posisi tertinggi disusul Belanda dan India.
Ia mengatakan rata-rata pengeluaran wisatawan di Sanur per hari mencapai Rp2,3 juta pada 2025. Angka tersebut bertumbuh dari tahun-tahun sebelumnya, yakni Rp2,24 juta pada 2024 dan Rp1,98 juta pada 2023.
“Lama menginap wisatawan di Sanur cukup panjang. Paling tinggi itu di atas 6 hari. Akomodasi yang diminati juga didominasi oleh hotel berbintang,” katanya. (Widiastuti/balipost)










