temu tani menjadi wadah strategis sekaligus ruang dialog yang konstruktif terkait berbagai tantangan hingga peluang pengembangan sektor pertanian berkelanjutan yang berangkat dari kondisi riil petani. (BP/Istimewa)

KUPANG, BALIPOST.com – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan kedaulatan pangan bukan pilihan, melainkan keharusan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah lewat penguatan kolaborasi bersama petani, pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan di sektor pertanian melalui program agrosolution.

NTT yang memiliki wilayah dengan karakteristik lahan kering seperti Kabupaten Kupang berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu penopang ketahanan pangan di kawasan timur Indonesia.

Menurut Dewan Komisaris Pupuk Kaltim, Gustaaf AC Patty, pihaknya mendukung kebijakan Presiden Prabowo dengan terus memperkuat peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Dijelaskan Gustaaf, temu tani menjadi wadah strategis sekaligus ruang dialog yang konstruktif terkait berbagai tantangan hingga peluang pengembangan sektor pertanian berkelanjutan yang berangkat dari kondisi riil petani.

Di Kabupaten Kupang misalnya, terdapat potensi pertanian sangat besar, khususnya produksi padi serta komoditas unggulan yang berperan penting terhadap stabilitas pasokan pangan. Untuk itu sistem pertanian yang tangguh, efisien dan adaptif dalam jangka panjang perlu dibangun melalui sinergi multipihak, agar mampu menjawab tantangan dan dinamika kebutuhan pangan di masyarakat.

Baca juga:  Warga NTT Ditemukan Meninggal Ulah Pati di Penginapan

“Hal ini selaras dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto, bahwa kedaulatan pangan bukan pilihan, melainkan keharusan. Semangat tersebut menjadi landasan penting menjalankan peran melalui program Agrosolution yang terus diperkuat dari tahun ke tahun,” ungkap Gustaaf dalam keterangan tertulisnya.

Dijelaskannya, Agrosolution merupakan salah satu inisiatif strategis menghadirkan solusi pertanian yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Tidak hanya berfokus pada penyediaan pupuk, Agrosolution juga menekankan pendekatan menyeluruh mulai dari edukasi budidaya, pemupukan berimbang, pendampingan teknis, hingga penguatan produktivitas dan efisiensi usaha tani.

“Melalui pendekatan ini, kami memastikan petani tidak hanya memperoleh akses terhadap agri input, tapi juga pemahaman tepat terkait tata kelola pertanian tanpa mengabaikan keberlanjutan lahan dalam jangka panjang,” terang Gustaaf.

Baca juga:  Desa Adat Selat Berlakukan Larangan Terima Pendatang dari NTT

Hal senada diungkapkan Sukardi Rinakit, yang menyebut pihaknya memandang ketahanan pangan sebagai agenda nasional yang butuh keterlibatan seluruh elemen, termasuk industri pupuk sebagai penyedia input penting bagi sektor budidaya. Maka dari itu, keberhasilan program pertanian tidak dapat dibangun secara parsial, melainkan harus didukung sinergi multipihak yang saling menguatkan.

Melalui Agrosolution, Kabupaten Kupang memiliki peluang besar menjadi salah satu contoh keberhasilan pembangunan pertanian di wilayah lahan kering, sehingga ke depan dapat berkontribusi lebih signifikan terhadap peningkatan produksi pangan daerah maupun nasional.

“Tantangan ke depan bukan hanya menjaga produktivitas pertanian tetap tinggi, tapi juga memastikan upaya tersebut tidak mengorbankan kesuburan tanah. Dan melalui Agrosolution, hal itu bisa kita implementaskan dengan baik,” tutur Sukardi.

Baca juga:  Experience Senggigi, the Oldest and Most Famous Tourism Destination in Lombok

Komitmen tersebut sejalan dengan arah transformasi pertanian modern yang semakin menekankan efisiensi penggunaan input, peningkatan hasil panen, serta pelestarian sumber daya lahan. Program Agrosolution pun dapat menjembatani kebutuhan praktis petani dengan visi pembangunan pertanian nasional yang lebih berdaya saing.

Terlebih dengan realisasi yang selama ini berjalan, Agrosolution mampu memacu produktivitas lahan pertanian dengan lebih optimal, dibanding tata kelola secara konvensional. Keberhasilan itu ditunjukkan dari meningkatnya hasil garapan masyarakat di berbagai daerah sasaran, pada sejumlah komoditas seperti tanaman pangan maupun hortikultura.

Terbaru, produktivitas jagung di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, meningkat drastis dari rata-rata 2,5 ton per hektar menjadi 6 ton per hektar, atau melonjak sekitar 140 persen. (kmb/balipost)

BAGIKAN