Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya. (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sejumlah kasus kriminal yang melibatkan warga negara asing (WNA) terjadi di Bali. Hal ini menyebabkan Pemerintah Provinsi Bali memilih mengedepankan strategi respons cepat untuk meredam dampak isu terhadap citra pariwisata.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, menegaskan bahwa kecepatan komunikasi menjadi kunci utama dalam menangani setiap kasus yang muncul. Koordinasi intensif langsung dilakukan dengan pihak kepolisian, pemerintah, hingga pelaku usaha akomodasi guna memastikan informasi yang beredar tetap akurat dan tidak menyesatkan.

“Fokus kami sekarang bagaimana setiap kejadian bisa segera diklarifikasi. Jadi tidak berkembang menjadi persepsi yang keliru di publik, apalagi sampai berdampak luas pada kepercayaan wisatawan,” ujarnya, Jumat (27/3).

Baca juga:  Demam, Istri PDP COVID-19 di RSUD Tabanan Ikut Diisolasi

Menurutnya, di era digital saat ini, satu kasus yang viral dapat dengan cepat memengaruhi persepsi global terhadap Bali. Karena itu, langkah antisipatif tidak hanya dilakukan saat kejadian, tetapi juga sebelum potensi masalah muncul. Salah satunya melalui edukasi kepada wisatawan terkait norma dan budaya lokal.

Kasus wisatawan asing yang sempat viral karena tidak menghormati Hari Raya Nyepi, misalnya, disebut telah diantisipasi sejak awal melalui surat imbauan kepada pelaku pariwisata dan wisatawan. Upaya preventif ini menjadi bagian dari strategi menjaga harmoni antara wisatawan dan kearifan lokal Bali.

Baca juga:  Tanpa Helm, Sejumlah WNA Naik Motor Lewat Jalur Mobil Tol Bali Mandara

“Pencegahan tetap kami lakukan. Edukasi kepada wisatawan penting supaya mereka memahami aturan dan budaya di Bali,” tegasnya.

Di sisi lain, Pemprov Bali juga memperketat pengawasan terhadap sektor akomodasi, termasuk yang berbasis platform digital seperti Airbnb. Penertiban terhadap pelanggaran dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan standar pelayanan tetap terjaga dan tidak memicu persoalan baru.

Meski diwarnai sejumlah kasus yang mencuat ke publik, Sumarajaya memastikan kondisi pariwisata Bali secara umum masih stabil. Data hingga Maret 2026 menunjukkan kunjungan wisatawan asing tetap terjaga, dengan pasar utama seperti Australia, India, China, Korea, dan Inggris masih mendominasi.

Baca juga:  Permudah Layanan dan Awasi WNA, Kungkung Segera Miliki Kantor Imigrasi

Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan wisatawan terhadap Bali belum terganggu secara signifikan. Diversifikasi pasar dan penguatan sistem pengawasan menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan sektor pariwisata di tengah berbagai dinamika.

“Yang penting kita tidak lengah. Setiap kejadian harus ditangani cepat, transparan, dan diikuti langkah pencegahan ke depan,” tandasnya.

Dengan mengandalkan respons krisis yang terukur, edukasi berkelanjutan, serta pengawasan ketat, Pemprov Bali optimistis citra pariwisata Pulau Dewata tetap terjaga dan mampu menghadapi berbagai tantangan global. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN