Salah satu dari 14 ogoh-ogoh di Kesiman yang akan mengikuti parade di Puri Bencingah pada Pangerupukan. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Parade ogoh-ogoh dari 14 sekaa teruna teruni (STT) di Kelurahan Kesiman akan dipusatkan di Puri Bencingah pada malam Pangerupukan, Rabu (18/3). Parade ini akan dilengkapi dengan fragmentari hasil kreativitas para pemuda di Kesiman.

Parade tersebut dikemas melalui Gelar Budaya Bencingah Vol. 3 yang akan mulai digelar sekitar pukul 20.00 WITA. Lurah Kesiman, I Nyoman Nuada saat dikonfirmasi, Selasa (17/3) mengatakan, kegiatan ini menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda sekaligus upaya menjaga keberlanjutan tradisi dan budaya Bali.

Menurutnya, parade ogoh-ogoh bukan sekadar mengarak karya seni rupa, melainkan juga menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi melalui gerak, lakon, dan kreativitas yang lahir dari generasi muda.

“Melalui parade fragmentari ogoh-ogoh ini para yowana menunjukkan bahwa modernisasi tidak melunturkan kecintaan terhadap akar budaya. Kreativitas yang mereka tampilkan menjadi bukti dedikasi dalam menjaga marwah seni dan tradisi di Kesiman,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi sarana mempererat kebersamaan antarbanjar serta menumbuhkan semangat gotong royong di masyarakat. Nuada juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, diantaranya Puri Agung Kesiman, Pemerintah Kota Denpasar, serta seluruh elemen masyarakat yang terlibat.

Baca juga:  Desa Adat Buahan Gelar Nyepi Kasa

Adapun 14 ogoh-ogoh yang akan tampil berasal dari berbagai STT di Kelurahan Kesiman yakni STT Banjar Bhuana Anyar dengan karya Niwatakawaca Wada, STT Banjar Kebonkuri Kelod (Sang Maya Cakru), STT Banjar Kebonkuri (Mangku Amuk Minalodra), STT Banjar Kebonkuri Tengah (Musen), STT Banjar Kebonkuri Lukluk (Angruwat Segara), STT Banjar Abian Tubuh (Roga Sanghara Gumi), STT Banjar Dangin Tangluk (Ki Bayu Semang), STT Banjar Kesumajati (Detya Matsya Baerawa), STT Banjar Dajan Tangluk (Kebo Iwa), STT Banjar Ujung (Swayamwara), STT Banjar Pebean (Kala Sudha), STT Banjar Dauh Tangluk (Danu Ing Ranu), STT Lingkungan Buaji Anyar (Kala Kuta), serta STT Banjar Cerancam (Ngogo Napak Sithi).

Baca juga:  Masih Terkendala, Pengguna IKD Denpasar Baru di Bawah 5 Persen

Untuk menilai penampilan para peserta, panitia turut menghadirkan dewan juri yang terdiri dari Dr. Ida Bagus Gede Surya Peradantha, M.Sn., I Gede Gusman Adhi Gunawan, S.Sn., M.Sn., serta Ika Yana Adnyana, S.Sn. Melalui kegiatan ini, diharapkan tradisi ogoh-ogoh tidak hanya menjadi bagian dari ritual tahunan menjelang Nyepi, tetapi juga berkembang sebagai ruang kreativitas seni yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat, khususnya generasi muda.

Sementara itu. Ketua Karang Taruna Kelurahan Kesiman, I Komang Kusuma Yudha mengatakan, kegiatan yang kali ini digelar ketiga kalinya ini mengusung pertunjukan fragmentari. Ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang dipadukan dengan pementasan dan pawai obor.

Menurutnya, konsep ini menjadi warna tersendiri dalam upaya menghidupkan ruang-ruang kreativitas generasi muda di Kesiman. Selain pementasan seni, pawai obor turut disesuaikan dengan tema penggarapan yang telah dirancang panitia.

Ia menjelaskan, kegiatan ini mendapat dukungan dari pihak kelurahan serta melibatkan berbagai unsur pemuda. Berbeda dengan sejumlah festival yang cenderung berorientasi komersial, Gelar Budaya Bencingah justru diarahkan untuk memperkuat nilai kebersamaan dan makna budaya di kalangan sekaa teruna.

Baca juga:  Denpasar Larang Gunakan Ini Saat Arak Ogoh-ogoh

“Kalau dilihat, banyak festival saat ini bergerak di ranah budaya juga untuk promosi wisata bahkan sebagai ajang komersial. Namun di Kesiman, kami ingin kegiatan ini tetap berakar pada aktivitas sekaa teruna agar lebih bermakna dan memberi ruang aktualisasi bagi generasi muda,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kusuma Yudha menekankan bahwa peran karang taruna di Bali tidak hanya sebatas fungsi sosial, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga dan mengembangkan budaya. Oleh karena itu, komunikasi dan kolaborasi dengan sekaa teruna terus diperkuat guna mempererat solidaritas antar pemuda.

Ia berharap, Gelar Budaya Bencingah dapat menjadi ikon budaya, khususnya dalam pengembangan seni ogoh-ogoh. Inovasi dan kreativitas generasi muda diharapkan terus tumbuh seiring perkembangan zaman, tanpa meninggalkan akar tradisi. (Widiastuti/bisnisbali)

BAGIKAN