Konservasi lontar milik warga Desa Pupuan, Selasa (10/3). (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Puluhan cakep lontar milik warga Desa Pupuan, Kecamatan Pupuan, dikonservasi oleh Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Tabanan, Selasa (10/3). Lontar-lontar tersebut sebelumnya dikumpulkan di kantor desa setelah banyak ditemukan dalam kondisi rusak akibat dimakan tikus, rayap, dan lembab karena lama disimpan.

Koordinator Konservasi Naskah Kabupaten Tabanan, I Putu Darma Susila mengatakan bahwa lontar yang ditangani berasal dari tujuh warga pemilik lontar di desa setempat. Pengumpulan dilakukan agar proses perawatan lebih mudah dilakukan oleh tim konservasi.

Baca juga:  Banyak Lontar ‘’Moksah’’ Dimakan Ngetnget

“Total ada puluhan cakep lontar dari tujuh pemilik yang kami konservasi. Kondisinya cukup memprihatinkan, banyak yang rusak karena dimakan tikus dan rayap serta lembap karena lama disimpan,” ujarnya.

Menurutnya, kerusakan lontar juga dipicu cara penyimpanan yang kurang tepat. Selama ini sebagian lontar disimpan terlalu lama di dalam keropak sehingga menjadi lembap dan kotor. Kondisi wilayah Pupuan yang relatif dingin juga membuat lontar lebih mudah rusak.

Dari hasil pendataan sementara, isi lontar yang ditemukan cukup beragam. Mulai dari lontar usada yang berkaitan dengan pengobatan tradisional, babad, hingga kakawin. Namun beberapa lontar masih dalam proses identifikasi karena kondisinya rapuh.

Baca juga:  Dedikasi Puluhan Tahun Tekuni Lontar, I Wayan Turun Terima Bali Kerthi Nugraha Mahottama

“Ada juga satu cakep lontar yang tidak berani dibuka karena kondisinya sudah sangat rapuh. Jika dipaksakan dibuka bisa hancur seperti kayu lapuk,” jelasnya.

Darma Susila menambahkan, sebagian besar lontar yang dimiliki warga merupakan warisan keluarga. Dahulu pemiliknya memiliki keturunan yang berkecimpung dalam pengobatan tradisional maupun kesusastraan Bali.

Selain melakukan konservasi, tim juga memberikan edukasi kepada pemilik lontar mengenai cara merawat dan menyimpan lontar dengan benar. Selama ini, sebagian pemilik hanya melakukan perawatan secara niskala melalui upacara karena lontar dianggap sakral. “Perawatan niskala biasanya sudah dilakukan, tetapi dari sisi sekala atau perawatan fisik masih kurang karena banyak warga belum memahami cara merawat lontar,” ujarnya.

Baca juga:  Desa Adat Cempaga Rencanakan Gelar Pawai Ogoh-ogoh

Ia menambahkan, proses konservasi ditargetkan selesai dalam waktu singkat. Namun tim sempat terkendala kondisi cuaca di wilayah Pupuan yang cukup lembab sehingga lontar harus diangin-anginkan terlebih dahulu sebelum dirawat. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN