
MANGUPURA, BALIPOST.com – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Badung masih berjibaku menangani genangan air di sejumlah titik kawasan pariwisata setelah hujan deras memicu banjir pada Selasa (24/2). Tim teknis terus berjibaku melakukan penanganan di lapangan untuk memastikan aktivitas masyarakat dan wisatawan tetap berjalan normal.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas PUPR Badung, AA Rama Putra mengatakan, genangan yang terjadi di sejumlah lokasi kini sudah dapat teratasi. Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi bukan pada sistem drainase, melainkan fenomena alam akibat curah hujan ekstrem yang terjadi merata di Bali.
“Ketika hujan turun merata di seluruh Bali, permukaan air laut meningkat. Hal ini menyebabkan aliran sungai menuju pantai mengalami hambatan atau bottle neck,” ungkap Rama Putra pada Rabu (25/2).
Ia menegaskan, tim operasional sebenarnya sudah siaga bahkan sebelum puncak hujan terjadi. Petugas langsung mengaktifkan pompa untuk mempercepat penanganan genangan di sejumlah titik rawan.
“Langkah pemerintah Kabupaten Badung sudah mengaktifkan pompa-pompa kami sejak pukul 00.47 WITA dini hari. Kami tidak menunggu air tinggi, petugas sudah di lapangan saat warga masih terlelap,” tegasnya.
Berdasarkan data Dinas PUPR Badung, penanganan genangan difokuskan pada tiga klaster utama yang menjadi kawasan vital pariwisata. Pertama, kawasan Dewi Sri dan Campuhan yang mencakup Dewi Sri 1, Dewi Sri 2, Dewi Sri 3 hingga Pandawa. Kedua, kawasan Jalan Kunti dan Seminyak. Ketiga, kawasan Wanasegara dan Samudra.
Untuk mempercepat penanganan genangan, Dinas PUPR Badung mengerahkan total 40 personel yang terbagi dalam tim pompa stasioner dan tim pompa mobile. Armada yang digunakan terdiri dari pompa stasioner di Kartika Plaza dan Dewi Sri dengan kapasitas besar mencapai 3.000 liter per detik. Sementara pompa mobile terdiri dari lima unit pompa berkapasitas 160 liter per detik serta satu unit pompa berkapasitas 250 liter per detik.
“Langkah Pemerintah Kabupaten Badung, kita sudah aktifkan pompa kita jam 00.47 WITA dengan petugas tim teknis. Yang kedua, kawasan Kunti. Perlakuannya sama, kita sudah melakukan pengoperasian pompa mobile. Hanya curah hujan yang seperti masyarakat ketahui, hujan di mana-mana. Di sini kita sedot, di lokasi A kita sedot, buang di B, yang B juga sudah meluap karena curah hujannya merata. Begitu juga titik-titik yang lain, baik di Banjar Anyar Semer,” paparnya.
Seluruh aliran air kemudian diarahkan menuju Muara Tukad Mati yang telah diperkuat dengan kapasitas pompa hingga 30.000 liter per detik. Selain melakukan penanganan darurat, Pemerintah Kabupaten Badung juga menyiapkan langkah jangka panjang melalui peningkatan infrastruktur drainase.
Saat ini, sejumlah proyek pengendalian banjir masih dalam tahap proses lelang. Program tersebut meliputi pembangunan drainase pengendali banjir di kawasan Basangkasa, Sunset Road, Campuhan, dan Dewi Sri. Selain itu, pemerintah juga merencanakan peninggian badan Jalan Kunti sepanjang 100 meter agar sejajar dengan bibir sungai.
“Kami membangun drainase pengendali banjir. Tahapan masih proses lelang. Untuk yang kedua di Jalan Kunti, kita akan melakukan peningkatan peninggian badan jalan. Karena posisi jalan dari sungai itu sepanjang 100 meter memang posisinya turun. Kenapa turun? Karena dulu kan masih mengairi sawah yang di sisi selatan,” katanya.
Menurut AA Rama Putra, secara teknis sistem drainase di kawasan pariwisata Badung sebenarnya sudah cukup baik. Hal itu terlihat dari kondisi air yang cepat surut setelah hujan berhenti.
“Sistem drainase kita sebenarnya sudah sangat bagus. Buktinya, dalam waktu satu jam setelah hujan reda, air langsung surut. Namun, saat laut pasang, air sungai mengantre untuk keluar, itulah yang menyebabkan genangan sementara. Semua sementara kita mengalirkan ke Tukad Mati. Walaupun dulu fungsi Tukad Mati itu kan tidak ada sumber. Sekarang, terfokus drainase lingkungan, drainase warga, dan lain sebagainya, buangnya ke sana (Tukad Mati),” ujarnya.
Ia juga menambahkan, puluhan tenaga kerja terus disiagakan untuk memastikan pompa tetap beroperasi maksimal. Bahkan dirinya ikut turun langsung memantau penanganan genangan di lapangan. “Kita melibat 40 personel untuk mengoperasikan pompa sejak belum terjadinya banjir, kami juga tidak pulang-pulang tetap standby termasuk saya juga terus di lapangan,” pungkasnya. (Parwata/balipost)










