Pelaksanaan forum konsultasi publik mengenai layanan kesehatan mental di RSUD Bangli, Rabu (18/2). (BP/istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta merasa prihatin atas tingginya kasus bunuh diri (bundir). Bahkan kasus bundir menempatkan Bali pada peringkat pertama di Indonesia. Hal tersebut diungkapkannya usai membuka forum konsultasi publik mengenai layanan kesehatan mental di RSUD Bangli, Rabu (18/2).

Sedana Arta mengatakan, fenomena ini tidak hanya terjadi di Bangli, melainkan juga hampir di seluruh kabupaten dan kota di Bali. Dia pun menyoroti motif kasus bundir di kalangan generasi muda yang dinilainya miris.

“Sangat miris kita mendengar kasus bunuh diri sekarang. Putus cinta bunuh diri, terlambat dibelikan motor oleh orang tuanya bunuh diri. Ini hal-hal yang perlu kita jaga bersama,” ujar Sedana Arta.

Baca juga:  Putri Koster Apresiasi Langkah IPBI Wujudkan TPS3R di Lingkungan Kampus

Menyikapi hal tersebut, Sedana Arta meminta seluruh stakeholder, untuk aktif melakukan sosialisasi dan edukasi. Ia menegaskan kemajuan teknologi dan media sosial harus disikapi dengan bijak agar tidak merusak tumbuh kembang mental anak muda.

“Kita harapkan edukasi tidak hanya di forum ini saja. Harus lebih banyak sosialisasi dan edukasi untuk menjaga generasi muda agar benar-benar tumbuh menjadi generasi handal yang bisa membangun kabupaten Bangli kedepan” tambahnya.

Baca juga:  Gegara Pinjol, Pria Curi Motor

Disampaikan juga bahwa sebagai upaya pencegahan, Pemkab Bangli berkomitmen melakukan sosialisasi dan mendukung penuh kreatifitas dan kegiatan positif generasi muda. “Selama ini kalau komunitas mengadakan kegiatan pasti kita dukung secara kelembagaan pemerintah dan pribadi,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Bangli, dr. I Dewa Gede Oka Darsana mengatakan alasan pihaknya mengangkat tema kesehatan mental pada forum konsultasi publik karena melihat banyak kasus bunuh diri akhir-akhir ini. Hal ini menunjukan rapuhnya mental generasi muda sehingga perlu diperkuat.

Baca juga:  Bakeuda Telusuri Data Piutang Pajak

Dia menjelaskan bahwa RSUD Bangli tidak ingin hanya fokus pada aspek pengobatan, tetapi juga pada pencegahan. Pihaknya berharap bisa melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan sekolah-sekolah untuk melakukan skrining kesehatan jiwa.

“Kita punya tenaga psikolog dan psikiater. Kami siap berkolaborasi dengan kepala sekolah dan komite untuk melakukan edukasi serta intervensi lebih awal jika ditemukan remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental,” ujarnya.

Melalui skrining nantinya dapat dipetakan potensi kerentanan mental siswa sekaligus membantu mengarahkan minat bakat siswa. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN