
DENPASAR, BALIPOST.com – Perang melawan sampah plastik di Bali belum usai. Data periode 2020–2025 menunjukkan tren peningkatan volume sampah yang signifikan, dengan lonjakan tajam sejak 2021 dan puncaknya pada 2024.
Berdasarkan rekap tahunan organisasi lingkungan Sungai Watch, pada 2020 volume sampah tercatat 10,4 ribu kg. Angka ini melonjak menjadi 269,94 ribu kg pada 2021, lalu naik lagi menjadi 433,38 ribu kg (2022), 502,54 ribu kg (2023), dan mencapai puncak 611,32 ribu kg pada 2024. Tahun 2025 memang menunjukkan sedikit penurunan menjadi 550,39 ribu kg, namun secara agregat belum terlihat tren penurunan yang konsisten.
Sepanjang 2025, volume sampah menunjukkan fluktuasi bulanan yang cukup signifikan. Volume tertinggi terjadi pada Januari sebesar 104.750,33 kg. Setelah itu terjadi penurunan tajam pada Februari dan Maret.
Periode April hingga November relatif stabil, berkisar antara 34.000 sampai 41.000 kg per bulan. Namun, volume kembali meningkat pada Desember menjadi 53.860,96 kg.
Data tersebut mengindikasikan adanya pola musiman. Tingginya volume pada Januari diduga berkaitan dengan puncak musim hujan di Bali, ketika curah hujan tinggi meningkatkan debit sungai dan membawa lebih banyak sampah dari daratan ke aliran sungai dan pesisir.
Sementara, sejak Desember 2025 hingga 10 Februari 2026, Sungai Watch telah mengumpulkan hampir 100.000 kg atau 100 ton sampah plastik, sebagian besar dari kawasan pesisir Kedonganan, Badung. Angka tersebut belum termasuk sampah organik.
Co-founder Sungai Watch, Gary Bencheghib, di salah satu gudang sortir sampah plastik Denpasar menyebut, saat ini Sungai Watch memiliki beberapa gudang sortir yang rata-rata bisa mengolah hampir 6.000 kg sampah plastik per hari dari lima wilayah operasional yakni Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan, dan Buleleng.
“Kalau melihat skala global, masalah plastik memang tidak ada habisnya. Tapi ini bukan hanya soal Bali. Di daerah yang penduduknya lebih padat, volumenya justru jauh lebih besar,” ujar Gary, Selasa (11/2).
Sungai Watch kini memasang 380 titik jaring penghalang sampah (barrier) di sungai-sungai Bali dan Jawa Timur. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 titik berada di Bali. Rata-rata satu titik barrier di Bali mengumpulkan sekitar 1.500 kg sampah per hari.
Selama hampir enam tahun beroperasi, Sungai Watch telah mengumpulkan total 4,2 juta kg sampah plastik. Meski demikian, Gary menyebut capaian itu masih sangat kecil dibandingkan produksi sampah plastik yang terus mengalir setiap tahun.
Gary menekankan, perang melawan sampah tidak bisa hanya mengandalkan aksi bersih-bersih. Dibutuhkan perubahan perilaku dan pembangunan sistem dari hulu ke hilir. Momentum pernyataan Presiden Prabowo terkait sampah di pantai dan perang melawan sampah, menurut Gary, seharusnya menjadi titik balik pembangunan sistem pengelolaan yang lebih serius dan terintegrasi secara nasional.
Sungai Watch juga terus mendorong perubahan dari hulu dalam upaya mengatasi persoalan sampah plastik di Bali. Salah satunya dengan melakukan brand audit terhadap produk-produk yang paling banyak ditemukan mencemari sungai.
Manajer Lapangan Sungai Watch, I Made Dwi Bagiasa, mengungkapkan, langkah ini menjadi dasar untuk membuka dialog dengan para produsen agar lebih bertanggung jawab terhadap kemasan produknya. Sebab, salah satu kendala terbesar saat ini adalah banyaknya produk dalam kemasan saset yang sulit didaur ulang. Selain ukurannya kecil, nilai ekonominya juga rendah sehingga tidak menarik bagi pengepul atau industri daur ulang.
Sementara, Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Bali dan Nusa Tenggara (Bali Nusra) Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Ni Nyoman Santi menyoroti tingginya timbulan sampah di sejumlah daerah, termasuk Bali.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang dihimpun, timbulan sampah di Denpasar mencapai lebih dari 1.000 ton per hari. Sementara, di kota besar lain seperti Bandung mencapai lebih dari 700 ton per hari.
Secara nasional, timbulan sampah bahkan mendekati 3.800 hingga hampir 4.000 ton per hari di sejumlah wilayah tertentu. “Angkanya cukup besar, sehingga kami benar-benar mengharapkan partisipasi seluruh masyarakat tanpa terkecuali, termasuk dunia usaha, untuk bersama-sama membantu pemerintah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, komposisi sampah di Bali tidak jauh berbeda dengan daerah lain di Indonesia, yakni didominasi sampah organik sebesar 60 hingga 70 persen. Terkait inovasi pengelolaan sampah, Santi menyebut pemerintah daerah di Bali, termasuk Provinsi Bali dan Kota Denpasar, telah bekerja keras dan mengadopsi berbagai teknologi serta pendekatan pengelolaan sampah yang berkembang.
Upaya tersebut meliputi penguatan sistem pemilahan, pengolahan berbasis sumber, hingga pengembangan berbagai metode pengendalian lingkungan yang dinilai sesuai dengan karakteristik daerah. (Suardika/balipost)










