Suasana antrean di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana saat arus mudik Lebaran 2024. (BP/Dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Persiapan pengamanan hari ini Idul Fitri dimulai dengan digelarnya Operasi Keselamatan Agung 2026. Sedangkan untuk memetakan titik macet, Polda Bali akan menyesuaikan dengan perkembangan kondisi arus lalu lintas (lalin) saat ini.

Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Bali AKBP Rina Isriana Dewi, Kamis (5/2) menyampaikan informasi dari Kabagbinops Ditlantas untuk pemetaan jalur dan titik kemacetan saat mudik lebaran masih belum dilakukan survei kembali. Namun pemetaan tersebut mesti melalui survei dan tujuannya untuk penyesuaian dengan kondisi saat ini.

Baca juga:  5 Berita Koran Bali Post Terbit Hari Ini, Senin 2 Februari 2026

“Kalau rekayasa lalu lintas diperkirakan akan sama dengan tahun sebelumnya,” ujarnya.

Seperti diketahui bersama, melihat arus mudik Idul Fitri tahun-tahun sebelumnya, kemacetan terjadi di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana. Sedangkan saat ini cuaca ekstrem akibat badai siklon masih terjadi dan berdampak pada arus penyeberangan di Pelabuhan Gilimanuk ke Ketapang.

Bali mendapat perhatian serius dan prioritas pengamanan dari pemerintah pusat saat mudik Lebaran. Pasalnya Bali adalah salah satu daerah dilalui secara khusus arus mudik. Pada pelaksanaan Operasi Ketupat 2025, pengamanannya melibatkan 3.117 personel.

Baca juga:  5 Berita Terpopuler: Dari KMP Cemerlang 55 Kandas hingga Kematian Penyu Meningkat

Polda Bali dan jajarannya juga membuat 32 pos terdiri dari 18 Pos Pengamanan (Pospam), 10 Pos Pelayanan (Posyan) dan empat Pos Terpadu. Tradisi mudik bagi umat Muslim yang menyebabkan naiknya mobilitas masyarakat menjelang maupun saat setelah hari raya Idul Fitri.

Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai kerawanan kamtibmas maupun kamseltibcarlantas, seperti gangguan keamanan, kemacetan, lakalantas dan stabilitas harga sembako akibat tingginya permintaan masyarakat. Termasuk meningkatnya kejahatan konvensional juga perlu diwaspadai.

Baca juga:  Tanah Kantor Desa Digugat Warga

Perubahan cuaca yang tidak menentu di beberapa wilayah Indonesia termasuk Bali berpotensi terjadinya bencana alam seperti banjir, hujan badai, angin kencang/puting beliung maupun tanah longsor. (Kerta Negara/balipost)

BAGIKAN