
DENPASAR, BALIPOST.com – Hingga saat ini, Bali dipastikan masih nihil kasus Virus Nipah. Meski demikian, kewaspadaan tetap ditingkatkan, terutama di pintu-pintu masuk wilayah Bali, seiring meningkatnya perhatian global terhadap penyakit zoonosis mematikan tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, menegaskan bahwa langkah antisipasi sudah dilakukan sejak dini.
“Untuk Bali, sementara belum ada kasus Nipah. Surat Edaran (Instruksi Kemenkes,red) sudah kami sampaikan ke kabupaten/kota untuk meningkatkan kewaspadaan dini dan respons di wilayah masing-masing,” ujar dr. Raka Susanti, Selasa (3/2).
Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, Dinkes Bali memastikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan telah disiagakan. Sebanyak 120 puskesmas, rumah sakit pemerintah, dan rumah sakit swasta di Bali dinyatakan siap, lengkap dengan ruang isolasi dan tenaga medis terlatih.
Kewaspadaan ini sejalan dengan instruksi pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang meminta seluruh Dinas Kesehatan kabupaten/kota meningkatkan pengawasan terhadap potensi penyebaran Virus Nipah. Virus ini tergolong penyakit zoonotik emerging yang dapat menular dari hewan ke manusia dengan tingkat fatalitas yang cukup tinggi.
Saat ditanya titik mana saja yang diperketat, dr. Raka menjelaskan pengawasan difokuskan pada pintu-pintu masuk Bali. “Titik pintu masuk oleh BBKK (Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan,red) pastinya,” jelasnya.
Terkait kesiapan fasilitas kesehatan, ia memastikan seluruh rumah sakit di Bali telah disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya kasus Nipah. “Semua rumah sakit siap. Kita belajar dari Covid-19, sekarang seluruh rumah sakit sudah memiliki kesiapan,” tegasnya.
Dinkes Provinsi Bali juga terus melakukan langkah antisipatif dengan memperkuat koordinasi lintas sektor. Di samping juga melakukan langkah antisipasi dengan meningkatkan kewaspadaan, yaitu dengan meningkatkan peran surveilans melalui Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) pada kasus Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (ILI dan SARI) di wilayah.
Virus Nipah diketahui ditularkan dari hewan ke manusia, dengan kelelawar sebagai inang alami. Selain itu, virus ini juga dapat menginfeksi hewan lain, khususnya babi, yang kemudian berpotensi menularkan virus ke manusia.
Dr. Raka mencontohkan kejadian luar biasa (KLB) Virus Nipah yang terjadi di Malaysia pada 1998–1999, yang berujung pada pemusnahan besar-besaran ternak babi karena terbukti menjadi media penularan virus ke manusia.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Bali mengimbau masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti rajin mencuci tangan, menghindari konsumsi makanan setengah matang, serta mewaspadai konsumsi buah-buahan yang berpotensi terkontaminasi air liur kelelawar.
Di sisi lain, pengawasan pintu masuk Bali terus diperkuat melalui kerja sama dengan Balai Besar Karantina Kesehatan. Untuk sektor peternakan, khususnya babi, Dinkes Bali juga berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan.
Ia mengingatkan bahwa Virus Nipah sangat berbahaya karena dapat menimbulkan komplikasi berat. “Gejalanya memang mirip flu, tapi bisa berkembang menjadi radang paru (pneumonia) hingga radang otak atau ensefalitis. Case fatality rate-nya cukup tinggi, sekitar 47 persen sampai 75 persen,” ungkapnya.
Masa inkubasi Virus Nipah berkisar antara 4 hingga 14 hari, bahkan dapat mencapai 45 hari. Selain penularan dari hewan ke manusia, virus ini juga dapat menular antarmanusia melalui droplet. (Ketut Winata/balipost)









