
DENPASAR, BALIPOST.com – Panitia Khusus (Pansus) Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (TRAP) DPRD Bali, menindaklanjuti dugaan pengambilan lahan pengelolaan kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID) dalam pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali, Senin (2/2).
Dalam inspeksi mendadak (sidak) yang dilaksanakan, Sekretaris Pansus TRAP DPRD Bali, Dr. Somvir, menilai konsep pengembangan KEK Kura-Kura Bali seharusnya tidak diarahkan pada pembangunan hotel-hotel mewah dan gedung besar, mengingat Bali sudah kelebihan fasilitas akomodasi.
Ia mendorong agar kawasan tersebut dikembangkan sebagai ruang hijau, pusat spiritual, dan kawasan ramah lingkungan. “Yang belum ada di Bali itu oxygen house, bukan hotel bintang lima. Oxygen house itu pohon-pohon. Denpasar ini kekurangan ruang hijau,” katanya.
Ketua Fraksi Demokrat-Nasdem DPRD Bali ini juga menilai wisatawan mancanegara datang ke Bali bukan untuk fasilitas mewah, melainkan mencari ketenangan, keindahan alam, dan lingkungan yang bersih.
Ia menyarankan BTID mengubah strategi pembangunan dengan mengedepankan konsep meditasi, yoga, spiritualitas, serta menghidupkan kembali mangrove.
“Bali ini cocok menjadi pulau spiritual. Sangat nyambung dengan nilai-nilai Hindu dan pura-pura suci di sekitarnya. Kalau konsepnya ramah lingkungan, umat Hindu dan masyarakat Bali pasti mendukung,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Bali terbuka terhadap investasi, namun investasi yang bertanggung jawab dan menjaga alam semesta. “Kita selalu welcome investor yang baik, yang menjaga lingkungan, air, dan tanah Bali,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya pembangunan yang berlandaskan filosofi keberlanjutan dan etika lingkungan. Ia mengutip sebuah ungkapan terkenal, “The earth produces enough for everybody’s need, but never enough for anybody’s greed.”
“Artinya, bumi ini menghasilkan cukup untuk kebutuhan semua manusia, tapi tidak akan pernah cukup untuk orang-orang yang serakah,” tegasnya disela-sela sidak.
Dr. Somvir menyoroti perubahan kondisi lingkungan di kawasan tersebut, khususnya hilangnya mangrove akibat aktivitas pengurukan lahan. Ia mengaku telah mengenal kawasan ini sejak puluhan tahun lalu, ketika lingkungan masih alami dan bersih. (Ketut Winata/balipost)










