Suasana Belajar di SDN 2 Kubutambahan. (BP/Yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Sengketa lahan yang terjadi di SDN 4 dan 5 Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan berakibat pada terganggunya aktivitas belajar siswa. Ratusan siswa kini terpaksa harus pindah lokasi belajar dan menjalani sistem masuk siang dengan meminjam ruang kelas sekolah lain.

Pantauan di lapangan, Rabu (21/1)siang, puluhan siswa SDN 5 Kubutambahan tampak datang ke SDN 2 Kubutambahan dengan diantar orang tua mereka. Mereka datang ke lokasi yang sedikit jauh dari sekolah asal mereka. Kondisi ini pun mengharuskan siswa untuk duduk satu bangku lebih dari dua orang.

Baca juga:  Denpasar Tidak Gunakan Vaksin Berkode CTMAV547

Sementara itu, siswa SDN 4 Kubutambahan saat ini melaksanakan pembelajaran dengan meminjam tempat di SDN 3 Kubutambahan. Di lokasi tersebut, pembelajaran relatif berjalan lancar karena jumlah siswa antara kedua sekolah dinilai seimbang.

Koordinator Wilayah (Korwil) Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kecamatan Kubutambahan, Made Sudarma, menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena perbedaan jumlah siswa antara sekolah peminjam dan sekolah yang dipindahkan.

“Di SDN 2 Kubutambahan terdapat 187 siswa, sementara dari SDN 5 Kubutambahan yang bergabung berjumlah 206 siswa. Kami bersama kepala sekolah dan para guru tetap mengupayakan agar layanan pendidikan berjalan optimal, meskipun ada beberapa siswa yang terpaksa duduk bertiga dalam satu bangku,” ujarnya.

Baca juga:  Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Kini Berdiri Sendiri

Untuk mengantisipasi siswa pulang terlalu malam akibat sistem dua shift, pihak Disdikpora meminta sekolah menyesuaikan jam belajar. Siswa yang masuk pagi dipulangkan lebih awal, sementara siswa shift sore ditargetkan selesai belajar paling lambat pukul 17.30 Wita.

“Ini terpaksa dilakukan. Kalau tidak dimajukan jam pulangnya, siswa yang masuk sore bisa pulang hingga pukul tujuh malam. Kasihan anak-anak, apalagi jarak sekolah sekarang lebih jauh dan harus diantar orang tua,” terang Sudarma.

Baca juga:  Mendesain Sekolah Ruang Pembenihan Berkualitas

Selain kendala ruang belajar, permasalahan lain juga muncul terkait kelengkapan administrasi pembelajaran. Sejumlah dokumen penting seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan perangkat guru masih tertinggal di ruang guru SDN 4 dan 5 Kubutambahan yang saat ini masih disegel.

“Kami belum berani mengambil karena ada segel dan peringatan agar tidak dibuka. Harapan kami, ada kebijakan agar dokumen tersebut bisa diambil sementara, supaya proses pembelajaran tetap berjalan maksimal tanpa menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari,” pungkasnya. (Yudha/balipost)

BAGIKAN