
SINGASANA, BALIPOST.com – Hujan lebat di kawasan Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, memicu kerusakan infrastruktur. Jalan penghubung Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Tabanan dengan Desa Petang, Kecamatan Petang, Badung, tepatnya di Banjar Poyan, Desa Luwus, putus total, pada Kamis (15/1) malam, akibat diterjang banjir luapan Pangkung Mati.
Sebelumnya jalan ini pernah jebol sepanjang 15 meter pada bulan Desember 2025 lalu tepatnya, Kamis (11/12). Dampaknya kendaraan roda empat tidak dapat melintas dan jarak tempuh menuju Petang menjadi 15 kilometer dari sebelumnya hanya sekitar 5 kilometer.
Perbekel Luwus, I Gede Oka Giriantara, mengatakan kerusakan terjadi sekitar pukul 19.00 Wita saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak sore hari. Lanjut dikatakannya, jalan ini sempat jebol pada bulan Desember 2025 lalu dan hanya bisa dilalui sepeda motor. “Kondisi sekarang putus total, mobilitas warga seperti Banjar Poya dan Banjar Macun terganggu,”ujarnya, Jumat (16/1).
Akibatnya warga terpaksa memutar melalui jalur alternatif seperti Desa Mekarsari atau Desa Perean untuk menuju Kota Baturiti. Bahkan, sebagian warga yang hendak ke kebun harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.
Menurut Oka Giriantara, kerusakan jalan dipicu luapan Pangkung Mati atau sungai buangan musiman. Gorong-gorong yang berada di bawah badan jalan dinilai tidak mampu menampung debit air saat hujan lebat sehingga air meluap dan menggerus struktur jalan. “Kalau musim kering tidak ada air. Tapi saat hujan deras, debit besar dan gorong-gorong terlalu kecil,” jelasnya.
Kondisi tersebut telah dilaporkan ke BPBD Tabanan dan Dinas PUPRPKP Tabanan. Bahkan, tim teknis dari PUPRPKP telah turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan lapangan sekaligus menyusun rencana penanganan. Pemerintah desa juga mengusulkan solusi jangka panjang berupa pembangunan jembatan. “Kalau hanya gorong-gorong, kami khawatir masalah ini akan terulang,” katanya.
Oka Giriantara menegaskan jalur Luwus–Petang merupakan akses vital bagi aktivitas ekonomi dan sosial warga. Karena itu, ia berharap perbaikan dapat diprioritaskan oleh pemerintah daerah.
Sementara itu, Sekretaris Dinas PUPRPKP Tabanan sekaligus Plt Kabid Bina Marga, I Gede Partana, mengatakan pihaknya telah melakukan monitoring sejak kejadian jebol pada Desember lalu hingga putus total Kamis malam.
“Terkait perbaikan dari hasil pengamatan langsung ke lokasi rencananya akan menggunakan sistem duiker dengan jalan melengkung. Mengingat lebar jebol sekitar dua meter sehingga belum masuk kategori pembangunan jembatan,” jelasnya.
Partana menambahkan, pelaksanaan perbaikan direncanakan pada tahun 2026, diperkirakan akhir Februari atau Maret, setelah mendapat persetujuan pimpinan. “Penanganan ini sudah masuk skala prioritas atas atensi Bapak Bupati,” pungkasnya. (Dewi Puspawati/balipost)










