
SINGARAJA, BALIPOST.com – Krisis tenaga veteriner atau dokter hewan dikhawatirkan terjadi di Kabupaten Tabanan di tahun 2026 ini. Pasalnya, sejumlah tenaga veteriner memasuki masa pensiun, sementara kebutuhan pelayanan kesehatan hewan di lapangan terus meningkat.
Dari data Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) saat ini hanya memiliki tujuh dokter hewan. Namun, ketersediaan tersebut belum merata, terutama di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan).
Di UPTD Puskeswan I misalnya, hanya satu dokter hewan yang bertugas dari kebutuhan ideal empat orang. UPTD Puskeswan II memiliki empat dokter hewan, namun dua orang akan pensiun pada April 2026. Kondisi serupa terjadi di UPTD Puskeswan III, yang saat ini memiliki empat dokter hewan dari kebutuhan lima orang, dengan satu petugas juga memasuki masa pensiun pada periode yang sama.
Sementara itu, UPTD Rumah Potong Hewan (RPH) masih relatif aman dengan tiga dokter hewan sesuai kebutuhan. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Tabanan, I Made Subagia, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, pensiunnya sejumlah dokter hewan tentunya akan berdampak pada layanan kesehatan hewan. “Memang nantinya kita akan kekurangan dokter hewan,” ujarnya, Selasa (13/1).
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dinas Pertanian Tabanan telah mengusulkan penambahan formasi dokter hewan ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan telah mendapat rekomendasi dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
Sambil menunggu kebijakan pengangkatan ASN, Distan Tabanan memaksimalkan peran tenaga pengabdi dan mahasiswa kedokteran hewan yang sedang magang dan koas. Bahkan, dokter hewan yang ada saat ini harus menjalankan tugas rangkap, terutama dalam penanganan penyakit prioritas seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), rabies, dan flu burung.
“Ada sekitar 10 tenaga pengabdi yang membantu secara sukarela, terutama saat vaksinasi dan penanganan kasus,” jelas Subagia.
Bantuan dari perguruan tinggi, termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM), juga turut memperkuat pelayanan di lapangan.
Ke depan, Dinas Pertanian Tabanan berharap tenaga pengabdi yang telah aktif membantu dapat diprioritaskan jika formasi ASN dibuka. Dengan keterbatasan tenaga, layanan kesehatan hewan tetap diupayakan berjalan melalui pengaturan skala prioritas.(Puspawati/balipost)










