
SINGARAJA, BALIPOST.com – Di tengah meningkatnya permintaan pasar terhadap tenun Cag-Cag khas Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, keberlangsungan kerajinan tradisional tersebut justru dihadapkan pada persoalan serius.
Jumlah penenun aktif semakin terbatas dan regenerasi perajin masih minim, sehingga dikhawatirkan dapat mengancam kelestarian warisan budaya masyarakat Bali Aga tersebut di masa mendatang.
Pembina Kelompok Tenun Ikat Cag-Cag Wukir Samirana, Wayan Suseni, Rabu (10/6) mengatakan tenun Cag-Cag memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Desa Sembiran. Kain tradisional ini tidak hanya berfungsi sebagai busana adat, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, setiap perempuan Sembiran yang telah memasuki usia dewasa atau menek bajang wajib memiliki kamen dan selendang tenun Cag-Cag. Kain tersebut digunakan dalam berbagai kegiatan adat dan keagamaan yang masih dijalankan masyarakat hingga saat ini.
“Kalau di Sembiran, anak perempuan yang sudah memasuki usia dewasa atau menek bajang wajib memiliki kamen dan selendang tenun Cag-Cag,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tenun Cag-Cag memiliki ciri khas berupa motif garis-garis sederhana tanpa lekukan. Di balik kesederhanaan motif tersebut tersimpan makna filosofis yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.
Bagian tepi kain melambangkan kelahiran, bagian tengah menggambarkan perjalanan kehidupan, sedangkan bagian akhir menjadi simbol kematian. Warna yang digunakan pun terbatas pada empat warna utama, yakni merah, hitam, kuning, dan putih.
Selain digunakan dalam tradisi menek bajang, tenun Cag-Cag juga dikenakan saat upacara pernikahan, Hari Raya Galungan, Kuningan, dan berbagai kegiatan adat lainnya. Penggunaannya dapat dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan, meskipun bagi perempuan Sembiran keberadaan kain ini memiliki nilai khusus karena menjadi bagian dari kewajiban adat dalam tradisi tertentu.
Suseni mengungkapkan, minat masyarakat terhadap tenun Cag-Cag terus meningkat. Pesanan tidak hanya datang dari wilayah Buleleng, tetapi juga dari berbagai daerah lainnya di Bali. Namun, tingginya permintaan tersebut belum diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang memadai.
Saat ini jumlah penenun aktif yang masih bertahan hanya sekitar 10 orang. Sebagian besar penenun berusia antara 40 hingga 50 tahun, sehingga regenerasi menjadi tantangan terbesar yang dihadapi kelompok perajin.
“Sekarang penenun yang aktif hanya sekitar 10 orang dan rata-rata usianya sudah 40 sampai 50 tahun. Tantangan terbesar kami adalah sumber daya manusia, karena masih sedikit generasi muda yang mau belajar menenun,” jelasnya.
Untuk menghasilkan satu lembar kain tenun Cag-Cag diperlukan proses pengerjaan sekitar satu minggu. Harga selendang tenun Cag-Cag berkisar Rp 400 ribu, sedangkan kamen dijual sekitar Rp 800 ribu per lembar. Salah seorang penenun, Ketut Suryani (54), mengaku mulai belajar menenun sejak tahun 2012. Ia memperoleh keterampilan tersebut dari almarhum Dadong Landri yang dikenal sebagai maestro penenun Desa Sembiran.
Suryani mengatakan, keinginannya mempelajari tenun Cag-Cag didorong oleh upaya menjaga warisan budaya agar tetap lestari dan tidak hilang ditelan perkembangan zaman. “Saya belajar karena ingin tenun ini tetap ada. Harus ada generasi yang meneruskan supaya tidak punah,” katanya.
Menurutnya, pemerintah telah memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok penenun di Desa Sembiran untuk mengembangkan kerajinan tradisional tersebut. Meski demikian, upaya menarik minat generasi muda untuk belajar menenun masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian bersama.
“Masyarakat Desa Sembiran masih berupaya mempertahankan tenun Cag-Cag sebagai identitas budaya Bali Aga. Namun tanpa regenerasi yang memadai, keberlanjutan warisan leluhur tersebut berpotensi menghadapi tantangan yang semakin berat,” tandasnya. (Yuda/balipost)










