Foto bersama usai sosialisasi hasil riset penyiraman otomatis berbasis IoT kepada petani di Desa Eka Sari Jembrana dari Politeknik Negeri Bali dengan Universitas Udayana bertempat di balai desa setempat. (BP/Istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Sebanyak 30 petani Desa Eka Sari, Kecamatan Melaya, Jembrana mengikuti kegiatan sosialisasi hasil riset penyiraman otomatis berbasis IoT yang dilaksanakan di Balai Desa setempat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari penyelesaian riset kolaboratif yang melibatkan Politeknik Negeri Bali, Universitas Udayana, SMK Negeri 2 Negara, SMK Negeri 3 Negara,
serta Pemerintah Daerah Jembrana.

Riset ini dilaksanakan melalui Program Katalisator Berdikari di bawah Dirjen Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi,
dan didanai oleh LPDP. Program ini menerapkan konsep Penta Helix, yang menyinergikan akademisi, pemerintah, industri/komunitas, media, dan masyarakat untuk menyelaraskan
kurikulum dan penelitian berbasis potensi lokal dalam rangka memperkuat perekonomian daerah.

Baca juga:  Berakhir 27 April, Pendaftaran SBMPTN Unud Sudah Capai 5.000 Orang

Ketua Tim Riset, Ni Nyoman Harini Puspita, menyampaikan hasil riset sekaligus menjelaskan manfaat teknologi IoT yang dikembangkan. Perangkat penyiraman otomatis ini mampu membaca perubahan kondisi tanah secara mandiri dan memberikan air sesuai kebutuhan tanaman.

Materi teknis mengenai pembangunan sumber air dan instalasi irigasi dipaparkan oleh I Gusti Ngurah Kade Mahesa Adi Wardana, sedangkan cara penggunaan perangkat IoT dijelaskan oleh I Putu Oka Wisnawa.

Baca juga:  WBTB, Upaya Nyata Lindungi Seni Tradisi dan Budaya

Selama dua bulan uji coba, petani merasakan manfaat signifikan. Penyiraman yang biasanya dilakukan secara manual dengan durasi panjang kini menjadi otomatis dan lebih efisien. Petani berharap dukungan pemerintah agar teknologi ini dapat diterapkan lebih luas, sementara biaya pemeliharaan siap ditanggung mereka. Program ini menjadi tonggak penting dalam mendorong modernisasi pertanian di Jembrana. (Adv/balipost)

BAGIKAN