Tim Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana (Unud) saat melakukan penelitian mangrove mati di kawasan Benoa, Denpasar. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kematian massal tanaman mangrove di kawasan milik Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) dan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Bali Selatan dipastikan akibat kontaminasi bahan bakar minyak jenis solar. Temuan ini terungkap dalam pemaparan hasil analisis laboratorium oleh tim Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana (Unud) dari Rabu (25/2) hingga Kamis (26/2).

Koordinator tim peneliti, Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa pengujian dilakukan menggunakan metode Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) terhadap sampel sedimen dan air di daerah rhizosfer mangrove.

“Hasil analisis menunjukkan sampel tanah positif tercemar limbah minyak bumi, terutama diesel (solar). Senyawa hidrokarbon yang terdeteksi didominasi rentang karbon C15–C24 yang identik dengan bahan bakar solar,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (26/2) malam.

Baca juga:  Gubernur Koster Terbitkan Pergub Perlindungan PMI Krama Bali, Ini yang Diatur

Diungkapkan, dari 45 senyawa volatil yang teridentifikasi pada sampel tanah, sebanyak 41 di antaranya merupakan senyawa hidrokarbon yang umum ditemukan pada bahan bakar seperti bensin, minyak tanah, dan solar.

Beberapa senyawa dengan persentase dominan, antara lain n-Hexadecane (5,799%), n-Heptadecane (7,651%), Pentadecane, 2,6,10-trimethyl (7,277%), Pentadecane, 2,6,10,14-tetramethyl (8,677%), dan n-Eicosane (5,421%).

Sementara itu, pada sampel air hanya ditemukan satu senyawa dari golongan hidrokarbon, yakni squalene, yang bukan merupakan indikator pencemaran minyak bumi. Hal ini mengindikasikan bahwa residu minyak telah mengendap dan terakumulasi di sedimen.

Baca juga:  lni, Rektor Terpilih Unud Masa Bakti 2021-2025

Secara visual, dijelaskan bahwa mangrove yang terdampak menunjukkan gejala penyakit abiotik seperti daun menguning (klorosis), daun nekrosis, kulit batang mengelupas, pertumbuhan kerdil, hingga busuk akar. Pola kematian tanaman juga tidak sporadis, melainkan terjadi dalam blok populasi yang sama.

Ia mengungkapkan, minyak yang masuk ke pori-pori tanah menutup sistem perakaran dan mengganggu penyerapan air serta unsur hara. Senyawa aromatik dalam bahan bakar merusak membran sel tanaman hingga menyebabkan kematian dalam hitungan minggu setelah paparan.

Atas temuan tersebut, Tim Unud merekomendasikan sejumlah langkah strategis. Antara lain, pemantauan kesehatan mangrove secara berkala, khususnya di kawasan Tahura Ngurah Rai. Isolasi dan aplikasi bakteri pendegradasi minyak bumi untuk bioremediasi tanah. Audit menyeluruh infrastruktur pipa bawah laut dan fasilitas energi di Bali Selatan. Moratorium aktivitas berisiko di kawasan sensitif hingga dokumen lingkungan diperbarui. Rehabilitasi substrat sebelum penanaman ulang. Dan penertiban status lahan di kawasan hutan lindung.

Baca juga:  Persedian Air Minum Menipis, Logistik Belum Menyentuh Kebutuhan Anak dan Ibu Hamil 

Tanpa langkah cepat dan tegas, ekosistem mangrove Bali Selatan terancam terus menyusut. Padahal, hutan mangrove berperan vital sebagai pelindung pesisir dari abrasi, penyangga ekosistem laut, sekaligus penopang citra pariwisata Bali berbasis lingkungan.

“Perlindungan mangrove bukan sekadar isu lingkungan lokal, tetapi juga menyangkut keamanan wilayah pesisir dan ketahanan menghadapi perubahan iklim,” tegasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN