
TABANAN, BALIPOST.com – Penetapan tradisi Mesuryak sebagai Warisan Budaya Tak benda (WBTB) oleh Pemerintah Pusat pada 15 Oktober 2025 disambut optimis Desa Adat Bongan Puseh. Pihak desa berharap pengakuan itu bisa dijadikan momentum memperkuat pelestarian serta membuka peluang pengembangan atraksi budaya dalam mendukung diversifikasi pariwisata Tabanan.
Kertha Desa Adat Bongan Puseh, Made Wardana, Minggu (30/11), mengungkapkan tradisi Mesuryak kini memiliki landasan yang semakin kuat untuk dilestarikan. Ia menegaskan penetapan sebagai WBTB tentunya memastikan tradisi yang diwariskan leluhur tersebut tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Kami sudah membuatkan rekomendasi pelestarian dalam kesimpulan kajian yang relevan,” ujarnya.
Wardana yang menyusun kajian usulan WBTB menjelaskan, penetapan ini diharapkan membuat Mesuryak dilaksanakan secara konsisten sebagai bagian penting dari warisan leluhur. Mesuryak tidak hanya bermakna mengiringi leluhur kembali ke sunia loka pada Hari Kuningan, tetapi juga memuat nilai pendidikan bagi anak-anak hingga orang dewasa, terutama terkait pentingnya berbagi dalam keluarga yang memiliki kecukupan ekonomi.
“Tradisi ini sudah membaku dan diwariskan turun-temurun. Anak-anak hingga orang dewasa melaksanakannya secara konsisten. Ini bagian dari konteks pelestarian,” imbuhnya.
Ia menambahkan, Mesuryak tidak pernah absen setiap Kuningan, bahkan pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020–2023. “Saat pandemi tetap ada, hanya disesuaikan protokol kesehatan, termasuk pembatasan jumlah peserta,” ujarnya.
Di samping menjaga kelestarian, Wardana berharap Mesuryak dapat masuk dalam kalender wisata Tabanan sebagai atraksi budaya, sebagaimana tradisi khas daerah lain di Bali seperti Perang Pandan, Perang Tipat, atau Omed-omedan. Pengemasan tersebut dinilai mampu memberikan dampak sosial ekonomi tanpa mengurangi nilai spiritualitasnya.
Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Tabanan, I Made Subagia. Ia menyebut, dengan telah sah masuk daftar WBTB bersama Entil Sanda, pihaknya berkewajiban menyiapkan program pelestarian berbasis pemberdayaan. “Tugas kami adalah mengupayakan program agar Mesuryak tetap lestari dan memberi multiplier effect. Misalnya menjadikannya atraksi budaya dengan tetap mengedepankan aspek spiritualitas sebagai yang utama,” tegasnya.
Subagia tidak menutup kemungkinan Mesuryak dikemas dalam format festival serta dimasukkan ke dalam kalender wisata daerah dengan melibatkan perangkat daerah terkait. Saat ini Disbud Tabanan menunggu berita acara penetapan WBTB yang dijadwalkan rampung pada Desember 2025, sebelum menerima piagam resmi dari Kementerian Kebudayaan. (Puspawati/balipost)










