Salah satu burung endemik Bali Barat, Curik Bali yang habitatnya berada di TNBB dan kini juga mulai menyebar ke permukiman warga di sekitar TNBB. (BP/Dokumen)

NEGARA, BALIPOST.com – Memiliki wewidangan di perbatasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Desa Adat Sumbersari di Desa Melaya, Kecamatan Melaya memiliki tanggung jawab ikut menjaga kelestarian alam sekitar. Termasuk satwa-satwa dilindungi yang memungkinkan hingga masuk ke permukiman warga.

Salah satunya satwa endemik yang menjadi ikon Pulau Bali, Curik Bali (leucopsar rothschildi). Seiring dengan meningkatnya populasi jalak Bali di alam liar dan tidak hanya terdapat di kawasan TNBB, tetapi juga di kebun dan pemukiman warga sekitar, termasuk Sumbersari, Melaya.

Bendesa Adat Sumbersari, I Ketut Subanda mengatakan terkait perlindungan pada Satwa dilindungi ini, desa adat telah bergerak sosialisasi untuk melindungi burung endemik Bali Barat ini.. Warga diharapkan untuk menjaga kelestarian jalak Bali yang hinggap di kebun dan sekitar pemukiman warga.

Baca juga:  Jelang Penyederhanaan Birokrasi, Badung Petakan Jabatan

Selain itu, mereka juga diminta untuk mengetahui lokasi sarang agar dapat menjaga dari serangan predator dan oknum warga yang akan mengambil. Diakui hingga saat ini, dari informasi warga, terdapat setidaknya empat lokasi di wilayah Desa Adat Sumbersari yang sering didatangi burung jalak Bali. “Dan diduga juga memiliki sarang di sekitarnya. Kami di Desa Adat berupaya untuk ikut menjaga kelestarian alam sekitar,” terangnya.

Baca juga:  Cari Kapal Selam, TNI Minta Bantuan Dua Negara Ini

Dari data di TNBB, populasi jalak Bali di alam liar saat ini tercatat sebanyak 560 ekor, termasuk di kebun dan pemukiman warga sekitar hutan. Karena banyak jalak Bali hingga ke kebun dan pemukiman, patroli rutin dari polisi hutan sudah sering dilakukan hingga ke kebun dan pemukiman warga.

Masyarakat sekitar, menurutnya juga sudah berkomitmen untuk menjaga kelestarian Jalak Bali, dan Desa Adat Sumbersari akan menyiapkan aturan tertulis secara khusus menjaga kelestarian burung endemik tersebut. “Tujuan dari perarem adat ini adalah mendukung upaya menjaga kelestarian jalak Bali yang semakin meningkat populasi di wilayah sekitar,” terangnya.

Baca juga:  Desa Adat Guwang Salurkan Bantuan Beras ke Warga

Sehingga warga dapat berdampingan dan ikut menjaga kelestarian alam. Desa Adat Sumbersari tercatat memiliki krama adat sekitar 250 Kepala Keluarga (KK) yang terbagi menjadi tiga banjar adat. Yaitu, Banjar Adat Sari Mumbul, Sari Muncul dan Dumadi Asri.

WIlayahnya berada paling ujung di Desa Melaya dan berdampingan dengan hutan serta laut. Dengan kondisi ini, desa adat berupaya melestarikan adat dan budaya dengan penguatan desa adat. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN