Pemimpin BNI Wilayah Denpasar, Made Sukajaya. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Tak hanya dalam kondisi normal, pada kondisi wabah COVID-19 pun perbankan tetap komitmen membantu ekonomi masyarakat. Bahkan dari sekarang, perbankan mulai menyiapkan diri menghadapi era baru setelah COVID-19.

Pemimpin BNI Wilayah Denpasar, Made Sukajaya, Selasa (5/5) mengatakan, dari sisi pembentukan aset dan penyaluran kredit, ia akan melakukan ekspansi secara selektif untuk menggerakkan perekonomian di Bali. “Penyaluran kredit selektif karena kita harus survive dengan menjaga kualitas dari aset-aset kita,” ujarnya.

Nantinya di era baru ini ia akan melakukan pemetaan  kembali sektor yang dibiayai. “Nanti kita petakan dulu pengaruhnya setelah COVID-19 ini seperti apa? Sebenarnya dari sekarang kita sudah melakukan pemetaan mana yang berdampak berat, sedang dan ringan dan setelah COVID-19,” ungkapnya.

Pasca COVID-19 pun akan terus dilakukan pemetaan karena BNI menaruh portofolio sektor secara berimbang. “Sehingga ketika terjadi sesuatu disini, aset kita secara over all tetap masih tumbuh dengan bagus,” imbuhnya.

Dalam kondisi wabah, BNI turut berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi Bali dan masyarakat. Melalui bantuan-bantuan bahan pangan, secara tidak langsung juga membantu UMKM di Bali. Sembako diberikan pada masyarakat yang terdampak sekitar 5.000 paket sembako.

Baca juga:  Kasus BPD Bali, Penyidik Kantongi Calon Lima Tersangka

“Sebagai wujud komitmen kami terhadap kebangkitan ekonomi, dalam penyediaan 5.000 paket sembako, kita coba memanfaatkan UMKM di Bali dalam mensupply kebutuhan itu. Harapannya perekonomian khususnya UMKM juga bergerak,” jelasnya.

Ia menegaskan selain membantu masyarakat yang tidak mampu juga sekaligus membantu UMKM.

Direktur Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, belum lama ini menyebutkan komitmennya pada kebangkitan ekonomi Bali karena penyaluran kredit tetap dilakukan di tengah wabah COVID-19. Meskipun penyaluran dilakukan lebih selektif pada bidang-bidang tertentu.

Prioritas  pemberian kredit disalurkan ke pangan, perdagangan, kesehatan (apotek) yang saat ini permintaannya masih tinggi. Namun diakui lebih selektif dengan memperhatikan kondisi usaha debiturnya. “KUR juga sama, kemarin ada peraturan Menteri Perekonomian tentang itu, tetap jalan cuma kita tetap lakukan seleksi,” ujarnya. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.