Suasana Desa Wisata Penglipuran. (BP/dok)

BANGLI, BALIPOST.com – Di tengah banyaknya kepulangan warga yang menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) dari luar negeri akibat dampak Corona, kekhawatiran menyebarnya virus ini makin tinggi. Sebab, para naker migran ini bisa saja membawa virus dari negara tempatnya bekerja (imported case).

Untuk mencegah terjadinya penyebaran virus ke masyarakat, muncul wacana melakukan karantina bagi para naker migran ini. Bahkan, Desa Adat Penglipuran sudah melakukan langkah antisipasi dengan meminta keluarga yang memiliki naker untuk melaporkannya tiga hari sebelum mereka pulang.

“Kami sudah meminta kepada krama yang memiliki anggota keluarga sebagai PMI agar tiga hari sebelum pulang melapor ke kami. Sehingga kami bisa mengedukasi keluarganya dan mempersiapkan mereka unntuk melakukan karantina mandiri,” Bendesa Adat Pengelipuran I Wayan Supat, Senin (13/4).

Dia menegaskan upaya tersebut bukan bermaksud mendiskriditkan para PMI. Namun lebih pada mengedukasi untuk bersama-sama mengantisipasi supaya COVID-19 tidak meluas.

Terhadap PMI yang membutuhkan tempat karantina mandiri, Desa Adat Penglipuran mempersilakan kramanya untuk menempati home stay milik desa adat. Home stay tersebut memiliki 3 ruangan yang bisa digunakan. “Kami punya home stay yang sekarang tidak ada tamu. Itu bisa dimanfaatkan oleh warga kami yang butuh tempat untuk karantina mandiri. Namun sejauh ini belum ada yang memanfaatkan karena rata-rata krama apalagi yang bekerja dari luar negeri seperti kapal pesiar sudah punya rumahnya yang lebih bagus dari yang lain,” terangnya.

Baca juga:  48 PMI di Rumah Singgah Sudah Diperbolehkan Pulang

Desa Adat Penglipuran ikut berpartisipasi aktif membantu pemerintah memutus rantai penyebaran virus Corona. Sejak awal merebaknya wabah COVID-19 di Bali, desa adat yang mendapat julukan desa terbersih di dunia itu sudah melakukan upaya antisipasi dengan menutup sementara Penglipuran dari kunjungan wisatawan. Upaya lainnya dengan menggencarkan penyemprotan cairan disinfektan pada fasilitas umum serta pribadi milik masyarakat.

Penyemprotan disinfektan juga setiap hari dilakukan di pintu masuk wilayah Penglipuran.
Sebagaimana desa adat lainnya, Penglipuran kini juga sudah membentuk satgas gotong royong penanggulangan Covid-19 yang di dalamnya terdiri dari beberapa bidang. Melalui satgas itu desa adat terus bergerak melakukan pencegahan sekaligus mengedukasi masyarakat untuk bersama-sama menanggulangi COVID-19. (Dayu Swasrina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.