Umat Hindu bersembahyang di Pura Besakih serangkaian nyejer Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK). (BP/nan)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Suasana Pura Agung Besakih pada rangkaian Karya Tawur Tabuh Gentuh dan Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) tahun ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, pamedek yang tangkil untuk melakukan persembahyangan sangat sedikit. Pura Agung Besakih terlihat lengang.

Berdasarkan pantauan pada Senin (13/4), situasi di kawasan Pura Agung Besakih lengang. Sejumlah tempat parkir yang ada di Besakih kosong dari kendaraan. Hanya terdapat sejumlah kendaraan milik pamedek yang parkir di pinggir jalan di sebelah barat Pura Penataran Agung.

Pemandangan ini sangat jauh berbeda pada saat karya tahun lalu. Tahun lalu, setiap harinya pamedek yang tangkil membeludak. Lahan parkir dipadati kendaraan. Pamedek sangat sulit mencari parkir kala itu.

Tahun lalu, setiap Sabtu dan Minggu, pamedek sampai berdesak-desakan hampir di semua pintu masuk pura. Sekarang, pamedek yang tangkil untuk melakukan persembahyangan bisa di hitung dengan jari.

Di Pura Penataran Agung, jumlah pemedek yang tangkil sangat sedikit. Itu bisa dilihat di halaman pura lengang, hanya ada beberapa pemedek yang melakukan persembahyangan. Begitu juga di pura pedarman sepi dari pemedek. Hanya terlihat beberapa orang saja yang bersembahyang.

Baca juga:  "Nyejer" Dipersingkat, Ini Jadwal IBTK Pura Agung Besakih

Salah seorang pengayah di Pura Agung Besarkih, Wayan Widana, mengatakan sejak awal karya, masyarakat yang tangkil sangat sedikit. Ini berbeda sekali dari tahun lalu. “Dari puncak karya sampai sekarang, sepi dari pamedek,” ucapnya.

Tiap harinya pamedek yang tangkil jumlahnya tidak mencapai ratusan orang. Kalau Sabtu dan Minggu, kemungkinan ada pamedek sampai seratus orang. “Kalau masyarakat dari luar saja jarang, jumlahnya tak sampai ratusan orang. Hanya ada puluhan pamedek saja. Kalau dihitung sampai krama Besakih yang sembahyang baru ada ratusan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Karya IBTK Jro Mangku Widiartha mengatakan, setiap harinya hanya ada puluhan pamedek yang tangkil. Ia menambahkan, bagi umat yang hendak tangkil, diharapkan saat bersembahyang mengatur jarak agar tidak berdekatan. “Sudah diisi batas-batas pamedek saat duduk sembahyang, tinggal mengikuti itu saja,” jelasnya. (Eka Parananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.