Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dampak dari wabah COVID-19, selain menimbulkan masalah ekonomi, juga dampak sosial. Terkait hal ini, Tim Percepatan Penanganan Dampak dan Pemulihan Akibat COVID-19 di Provinsi Bali yang juga Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengatakan kondisi yang dialami ini merupakan masalah global.

Terkait langkah yang perlu diambil menyetop meluasnya penyebaran COVID-19, kata dia, memang memerlukan kajian-kajian dari pusat. Ia mengatakan bagaimana membatasi perpindahan warga antarpulau, antarprovinsi tentu harus dimaksimalkan. “Kami menjaga Provinsi lain dan Provinsi lain juga menjaga kita, tentu hal itu memerlukan kebijakan pusat,” katanya.

Diakuinya tantangan yang dihadapi sekarang adalah, pulangnya tenaga migran yang masih cukup banyak. Menurutnya, untiuk tenaga migran ini, mereka saat keluar dari kapal pesiar, biasanya sudah mendapat sertifikat sehat. Tapi karena mereka setelah dari kapal pesiar tidak langsung ke Bali, namun sempat ke satu negara tertentu atau ada satu tempat yang membuat mereka tertular, tentu menjadi tantangan. “Inilah yang menyebabkan ada dari mereka saat tiba di Bali usai diperiksa, hasilnya positif dan ada juga yang dalam pemantauan,” bebernya.

Baca juga:  175 Tenaga Kesehatan RSUP Sanglah Jalani Isolasi, Dijamin Tak Ganggu Pelayanan

Sementara, untuk mengatasi meluasnya penyebaran COVID-19, ia kembali menekankan pemerintah belum mau mengambil langkah ekstrem sepeti lockdown. Pihaknya mengatakan tidak bisa terlalu jauh mengambil langkah itu. “Jangankan lockdown, untuk melakukan karantina wilayah saja ada payung hukum yang harus kami ikuti,” ujarnya.

Menurutnya, tidak hanya Bali sebagai destinasi pariwisata yang terdampak. Namun kata dia, negara lain seperti Singapura, Thailand dan lainnya juga terdampak. Sehingga, pascawabah, mereka pasti akan berebut menarik wisatawna ke destinasi masing-masing.

Untuk itu, Bali juga harus aktif dan akan menargetkan sejumlah negara. Terutama, yang perlu ditarget adalah pasar tradisional yang dulu banyak ke Bali. Seperti Tiongkok, Australia sebagai pasar besar, serta India. “Kami tetap menjaga hubungan baik ini dengan harapan manakala corona sudah berakhir, Bali tidak dilupakan,” ucapnya saat ditemui di kantor PHRI Bali, Rabu (8/4). (Yudi Karnaedi/balipost)