Sugi Lanus. (BP/Istimewa)

Oleh Sugi Lanus

“Wabah (gering-mrana) tidak boleh diumpat —ten dados pisuh. Kalau diumpat mereka datang berlipat —yening pisuh medal ngeliuanang”, demikian pesan para tetua Bali yang secara turun-temurun. Pesan ini mengajari kita untuk menjauhkan pikiran dari rasa benci terhadap wabah. Sebaliknya wabah dimaknai sebagai peluang belajar menahan diri.

Leluhur Bali memang mewariskan berbagai ajaran tertulis dan lisan untuk menghormati alam dan isinya. Secara konsisten ajaran ini teguh dipegang ketika wabah datang menghampiri. Para tetua memaknai yang wabah datang sebagai pembawa pesan dari niskala: “Mangda nenten merkak dados jadma” (Agar tidak congkak sebagai manusia). Datangnya wabah pun menjadi momentum kesadaran, “mulat sarira” (memasuki dan memahami diri). Memeriksa ke dalam, bukan menyalahkan keluar.

Wabah bisa menyerang lahan pertanian, ternak dan manusia. Para petani umumnya punya berbagai kisah kegagalan panen karena serangan hama. Biasanya disebabkan oleh hama walang sangit, ulat, wereng dan tikus. Hidup petani yang sahaja dibuat morat-marit. Walang sangit, ulat, wereng dan tikus seperti mengikat janji, bergilir menyerang sawah dan lumbung petani. Alih-alih mengumpatnya, para petani malah memberi gelar kehormatan “jro” kepada wereng dan tikus.

Hama diajak ngomong dan disapa dalam upakara: “Mekaon mekaon jro, mekaon jrone mekaon.” (Pergi pergilah tuan dan puan, pergi pergilah tuan dan puan). Diucapkan tanpa nada benci. Jauh dari perasaan bermusuhan atau dimusuhi. Diucapkan dalam suasana ritus suci penaklukan hama, Nangkluk Mrana. Tikus diberi gelar kehormatan lebih spesifik sebagai “Jro Ketut”. Kalau petani sudah habis-habisan berdoa, dan tetap saja subak dilalap tikus untuk kesekian kali panen, barulah tikus diburu. Ini dilakukan lewat prosesi permohonan maaf pinuning yang sangat serius. Perburuan dihayati sebagai ritus suci. Ditutup dengan upakara penyucian somya: Ngaben Tikus.

Baik Nangluk Mrana dan Ngaben Tikus dilandasi permintaan maaf dan permohonan suci kehadapan Batara Bedugul — berakar kata dari “Bedogol” (arca penjaga) yang tidak lain dari personifikasi Batara Hyang Ganapati (Ganeśa) yang menguasai segala kekuatan alam bawah dan penghubung ke alam atas.

Kawanan kera —yang sering mengganggu pertanian yang berbatasan dengan hutan— juga disebut sebagai “Jro Ketut”. Mungkin karena tikus dan kera makhluk berekor (maikut atau maikuh) maka keduanya diberi gelar “Jro Berekor” (?).

Jika ditelisik kenapa gelar “jro” diberikan pada tikus dan kera, serta warga hama, tampaknya sikap ini didasari oleh sikap hormat yang mendalam pada alam yang menjadi pedoman hidup leluhur Bali. Leluhur Bali sepertinya sangat paham bahwa pikiran baik dan tidak membenci akan mendatangkan energi kekuatan penyembuh dan energi kasih perlindungan dari semesta alam.

Secara umumnya, kata “jro” adalah gelar kehormatan untuk Pemangku atau seseorang yang dianggap telah mengalami transformasi kehidupan, meninggalkan keduniawian dan masuk ke kehidupan spiritual. “Jro” juga merupakan panggilan kehormatan untuk para tetua prajuru desa adat di Bali.

Mungkin hanya beberapa tetua Desa Pedawa, Buleleng, yang risih dipanggil “jro”. Sebutan “jro” dalam praktek upakara di Pedawa memang berasosiasi dengan penguasa mrana (wabah). Di desa ini “jro” adalah gelar spesifik untuk makhluk yang bisa membawa kabrebehan (aura kebencanaan). Di desa ini pendeta tidak dipanggil jro mangku tapi dane balian (yang mulia juru upakara). “Dane” adalah untuk pemimpin upakara dan “jro” sebutan penghormatan untuk makhluk alam lain yang berpotensi membawa wabah.

Dalam konteks anggah-ungguh atau tata krama berbicara, “jro” (atau kadang ditulis “jero”) adalah bentuk hormat (honorific) yang ditujukan juga kepada lawan bicara yang tidak kita kenal. Kalau pedagang menyapa pembeli di pasar, di masa lalu, orang akan bertanya: “Jro numbas napi?” (Tuan-puan membeli apa?), atau “Jro saking dija?” (Tuan-puan dari mana?). Sebutan “jro” bermakna honorific (penghargaan) dan sekaligus mengandung arti “sosok yang tidak kita kenal”. “Jro” merujuk pada yang tidak kita kenal asal usulnya dan tidak kita pahami kepentingannya.

Seperti halnya “jro” Covid-19. Ia tidak kita kenali, entah datang dari mana, mungkin dari dunia antah berantah. Ia tidak kita kenali maksud tujuan kedatangannya. Ia seperti penjelmaan Bhuta-Kala dalam naskah-naskah Jawa Kuno: Kekuatan niskala yang bisa berlari menunggang angin, meloncati gunung, laut dan pulau-pulau.

Jro Ketut dalam sejarah wabah dunia

Dalam sejarah dunia Jro Ketut (tikus) dianggap sebagai penyebar pandemik Pes, dikenal juga sebagai Maut Hitam (The Black Death). Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, ditemukan pada kutu tikus. Kurun tahun 1347 sampai 1351, wabah ini membunuh 75 sampai 200 juta orang di seluruh dunia. Sepertiga populasi Eropa. Diperkirakan populasi dunia sekitar 450 juta orang ketika itu. Setengahnya tewas karena Maut Hitam.

Nusantara tidak lepas dari wabah Pes. Koran Middelburgsche Courant, 5 Mei 1911, menulis liputan “Pest in Indie”, tentang wabah Pes yang menerjang India Belanda. De Raadt, O.L.E (1915) menulis buku Penyakit Pes di Tanah Jawa dan Daja Upaja Akan Dia. Dinas Pemberantasan Pes (Dienst der Pestbestrijding) dibentuk oleh pemerintah kolonial tahun 1914 untuk mengontrol segala hal yang berkaitan dengan Pes dan segala upaya pemberantasannya di Residensi Pasuruan, Kediri, Madiun, Surabaya dan Madura, serta daerah wabah lainnya di Hindia Belanda.

Di wilayah Kediri antara tahun 1911 hingga 1918 tercatat 9.808 kasus Pes, atau 15% dari penduduk Kediri. Di wilayah ini rata-rata 9-10 orang meninggal setiap minggunya, selama enam tahun yaitu sejak 1911-1916. Terence H. Hull — dalam Death and Disease in Southeast Asia diedit oleh Norman G. Owen (1987) — menyebutkan bahwa kurun waktu tahun 1933-1934 wabah penyakit Pes melanda Priangan, Jawa Barat. Sekitar 15.000 orang Priangan tewas. Pes mewabah ke semua penjuru Jawa, tidak terkecuali pulau Bali.

Baca juga:  Bali Masih Terus Hadapi Penambahan Kasus Positif COVID-19, Pasien Sembuh Juga

Penyakit yang umum disebut sebagai Sampar atau Pes — yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan berbagai sebutan ini: Black Death, Pestilence, Great Bubonic Plague, Great Plague, atau Plague — mengingatkan kita pada berbagai jenis wabah yang disebut-sebut dalam berbagai naskah-naskah lontar Bali kelompok Usada (pengobatan herbal dan terapi pengobatan tradisinal) sebagai: Sasab, Mrana, Gering Agung, Gerubug, Cakbyag, Bah Bedeg, Sakit Gede, dll. Sederetan penyakit yang punya indikasi: pnumonik, septisemik, dan bubonik.

Epidemik ini mempengaruhi berbagai aspek peradaban. Dari munculnya kebijakan karantina, munculnya lab penelitian kedokteran, pengawasan transportasi, pengawasan ekspor-import, pemeriksaan kebersihan kapal-kapal, sampai mempengaruhi keimanan dan renungan teologis manusia.

Catatan kuno tentang wabah

Kitab Bhagavata Purana, ditulis sekitar 800 tahun lalu, menyebutkan agar pemilik rumah meninggalkan rumah kalau menemukan bangkai tikus. Sebuah pertanda akan datang penyakit yang akan menjangkiti manusia.

Sekilas memberi pedoman melakukan mitigasi wabah. Kitab ini mengandung informasi penting bahwa ada penularan wabah dari binatang ke manusia. Petunjuk menghindari wabah dengan cara menjauh — dalam konteks sekarang bisa dimaknai sebagai isolasi diri atau karantina. Tidak berkeliaran, mengungsi, menghindari keramaian atau tempat-tempat yang potensial menjadi titik penyebaran wabah.

Di Bali terdapat beberapa istilah wabah, seperti: Sasab, gerubug, gering agung, mrana/merana, cakblag, bah bedeg, dll. Tertulis dalam lontar Usada buduh, Usada Rare, Usada Kacacar, Usada Tuju, Usada Dalem, Usada Ila, Usada Bebai, Usada Ceraken Tingkeb, Usada Tiwang, Darmosada, Usada Kalimosada, Usada Kuranta Bolong, Usada Mala, Usada Rukmini Tatwa, Usada Smaratura, Usada Upas, Usada Yeh, Usada Buda Kecapi, Usada Cukil Daki, dan Usada Pamugpugan, dll. Dari khazanah lontar ini kita memahami bahwa ada berbagai wabah (gering) pernah menimpa masyarakat Bali.

Dalam lontar tersebut disebutkan pentingnya karantina atau isolasi bagi yang terkena gering agar tidak mewabah. Masyarakat umum disarankan untuk tidak berkeliaran ketika ada wabah.

Selain wabah tercatat dalam lontar pengobatan, terdapat lontar Puja-Stawa dan lontar Indik Bhuta Yadnya, yang mengajari kita untuk menaruh hormat dan kehati-hatian pada Jro Ketut dan berbagai mrana.

Tikus sebagai kekuatan alam bawah disebut dalam Gaṇa-stava, sebuah mantra suci pemujaan Hyang Gaṇa penguasa semua mrana atau wabah. Mantra jala-nidhi mūrti-devam atau SĀGARA- STAVA, sebuah mantra-pujian kepada Sang Hyang Sūrya dengan gaya Sanskṛta-Nusantara, menurut informasi Pendanda Siwa yang muput (memimpin puja) upacara Nangluk Merana, yang diadakan di pantai dekat Gianyar, adalah mantra pujian yang diuncarkan untuk menghentikan gangguan tikus (Goudriaan & Hooykaas, 1971).

Para Sulinggih dan para sang wruhing tattwa jñana (mereka yang menguasai ilmu rohaniah) selama sasab (bencana wabah) direkomendasikan oleh pustaka Widhi Sastra Roga Sangara Gumi untuk melakukan puja Akasa Stawa, Bayu Stawa, dan Teja Stawa.

Sepatutnya masyarakat Bali bersyukur telah diwarisi ajaran śraddha bhakti pada alam sebagai koridor dalam menanggapi wabah. Ini tercermin dalam tradisi pikir, ajaran laku hidup dan berbagai upakara Bhuta Yadnya di Bali. Wabah dihadapi dengan jalan menghormatinya, dengan tutur kata yang baik, dan upakara suci. Tidak melalui kebencian dan rasa gusar.

Dengan respect dan kedewasaan diri, kemudian memintanya mundur secara welas asih. Sebuah pelajaran besar bagaimana leluhur kita begitu tenang dan matang dalam menghadapi wabah. Tidak panik, tidak arongan, tapi bersahabat dan bertutur halus dalam kekuatan doa.

Seperti juga “Jro Ketut” (tikus) yang meluas-lebarkan penyakit Pes atau Sampar menjadi epedemi yang menghantui dunia selama berabad-abad, kini “Jro Korona” (Covid-19) ini meminta kita terjaga dan waspada. Ia meminta kita membuka hati dan eling bahwa kekuatan alam bawah sedang bangkit dan menjalar, berjalan menyapa dan menyadarkan dunia.

Belajar dari leluhur Bali yang bersikap tidak membenci dan tetap respect dengan memanggil tikus sebagai Jro Ketut, ada baiknya kita terapkan pula dalam menghadapi Covid-19. Tanpa maksud berkelakar sedikitpun, tidak berlebihan rasanya di dalam hati kita sebut Covid-19 sebagai “Jro Korona”: “Jro jro Korona, suksma sampun rauh. Mangkin jrone mekaon. Mekaon jrone mekaon…” (Jro Korona terima kasih telah datang. Sekarang pulang-pulanglah. Pulanglah sekarang…)

Merawat sikap tetap respect pada alam ketika terjadi kebencanaan, terbukti ampuh memunculkan rasa tenang. Doa-doa yang ditujukan untuk memuliakan kekuatan alam diakui oleh peneliti membawa dampak positif terhadap diri sang pendoa — semacam placebo effect dalam kedokteran. Di dunia kedokteran disebutkan ada korelasi antara ketenangan seseorang dengan stabilitas imunitasnya. Mengucap suksma (terimakasih, respect dan gratitude) membuat seseorang menjadi lebih hening. Memunculkan pikiran positif yang berguna untuk meredam kepanikan.

Melalui berbagai ajaran lisan dan tertulis, berbagai upakara dan mantra Bhuta Yadnya, leluhur Bali telah mewariskan cara tangguh dalam menyikapi wabah: Memilih kejernihan, dibandingkan kegaduhan hati. Memilih hening diri dan upakara suci, dibandingkan berkata-kata kasar dan prilaku gusar. Begitulah, para leluhur mengajari kita untuk senantiasa degdeg (jernih) dan teguh menjaga relasi batiniah dengan alam, terlebih-lebih ketika sedang dilanda wabah.

Penulis adalah budayawan, pembaca manuskrip lontar.

BAGIKAN