Petugas tengah mengevakuasi pasien yang terindikasi covid-19 dalam simulasi penanganan covid-19 di RSUP Sanglah, Denpasar, belum lama ini. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Tidak semua perawat boleh menangani pasien infeksi menular khususnya COVID-19. Menggunakan alat pelindung diri (APD) saja tidak cukup, sebab perawat juga harus memiliki bekal kompetensi khusus terkait hal ini. Demikian diungkapkan Ketua DPW PPNI Provinsi Bali, I G.N. Ketut Sukadarma, SKp., M.Kes., Jumat (3/4).

Dikatakannya, setiap rumah sakit telah memiliki perawat yang bertugas di masing-masing ruangan termasuk di ruang isolasi. Sebelum ditugaskan di ruang isolasi, perawat harus diberikan orientasi, memiliki pemahaman yang cukup agar mempunyai kemampuan dan kesiapan yang cukup merawat pasien penyakit menular.

Pada umumnya, pendidikan perawat bersifat general. Sementara perawatan di ruang-ruang tertentu harus memiliki beberapa kompetensi. “Kalaupun ada faskes yang merekrut tenaga perawat, kemudian langsung ditempatkan di fasilitas isolasi, itu saya kira kurang tepat,” ujarnya.

Baca juga:  Dua PDP di RSUD Buleleng, Belasan Kontak Erat Berstatus Pemantauan

Perawat yang tepat ditempatkan di ruang isoalasi adalah perawat yang dianggap kompetensinya memadai. “Paling tidak melalui proses sosialisasi. Walaupun pembelajaran hanya beberapa hari, tapi kita yakini sudah cukup, itu boleh,” ungkapnya.

Di Bali, jumlah perawat sebanyak 13.500 orang. Secara umum, kata dia, para perawat di Bali siap menangani pasien COVID-19. Namun kembali lagi, dengan catatan sudah memiliki kompetensi dan yang tak kalah pentingnya, menggunakan alat pelindung diri (APD) memadai, sebagai bagian dari SOP penanganan pasien COVID-19.

“Sebagai seorang perawat, sudah menjadi panggilan hati nurani sebagai sebuah pilihan profesi untuk melayani pasien tanpa membeda-bedakan status sakitnya. Tentu semua atas dasar keilmuan dan kompetensi yang dimilikinya,” ujar Sukadarma. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN